JAKARTA -
Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah (GEMAR) diluncurkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN sebagai upaya meningkatkan keterlibatan
ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Berikut informasi selengkapnya.
Baca juga: Hari Ayah Nasional 2025, Ibas Ajak Anak Muda Tak Melupakan Jasa Orang Tua Melalui siaran pers, Kamis (18/12/2025), program Gerakan Ayah Mengambil Rapor ini diinisiasi langsung oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, dan tertuang dalam Surat Edaran (SE) yang ditandatangani pada 1 Desember 2025.
Dimulai Desember 2025
Melalui GEMAR, para ayah yang memiliki anak usia sekolah didorong untuk hadir langsung ke sekolah saat penerimaan rapor pada akhir semester. Kehadiran ayah diharapkan menjadi bentuk nyata dukungan terhadap proses belajar anak sekaligus memperkuat peran keluarga dalam pendidikan.
Baca juga: Meghan Markle Ingin Kirim Surat Kepada sang Ayah usai Diamputasi Kakinya Dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa anak usia sekolah yang dimaksud mencakup pendidikan anak usia dini (PAUD), jenjang pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah. Pelaksanaan GEMAR dimulai pada Desember 2025, dengan menyesuaikan jadwal pembagian rapor di masing-masing satuan pendidikan.
Boleh Telat Ngantor
SE itu juga mengatur bahwa ayah yang mengikuti Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah diberikan dispensasi keterlambatan masuk kerja, sesuai ketentuan di instansi atau kantor masing-masing. Kebijakan ini diberikan sebagai bentuk dukungan negara agar para ayah dapat berperan aktif dalam pendidikan anak tanpa khawatir sanksi pekerjaan.
Baca juga: Mengejar Ambisis Terlalu Besar, Cinta Laura Menyesal Jarang Bertemu Ayah Gerakan ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya anggapan bahwa pengasuhan dan urusan pendidikan anak merupakan tanggung jawab utama ibu. Padahal, keterlibatan ayah memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak. Kehadiran ayah dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar serta kepercayaan diri anak di sekolah.
Fenomena Fatherless
Selain itu, GEMAR juga menjadi respons atas fenomena fatherless, yang tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan ayah secara fisik, tetapi juga minimnya keterlibatan emosional ayah dalam kehidupan anak. Sekolah dipandang sebagai ruang strategis untuk memperkuat peran ayah, karena menjadi tempat bertemunya orang tua, anak, dan pendidik dalam membangun masa depan generasi muda.
Dengan diluncurkannya Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah, pemerintah berharap tercipta budaya pengasuhan yang lebih setara, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.
(nnz)