KABUL - Sebuah bioskop bersejarah di Kabul, Afghanistan, yang selama beberapa dekade menarik para penggemar film kota itu dihancurkan di tengah larangan pemutaran film oleh
Taliban. Bioskop terkenal itu dihancurkan untuk memberi jalan bagi pembangunan pusat perbelanjaan.
Dibangun pada tahun 1960-an, Bioskop Ariana dijarah dan dihancurkan dalam perang saudara Afghanistan tahun 1992-1996, sebelum upaya restorasi yang dipimpin Prancis yang membuatnya dibuka kembali pada tahun 2004.
Namun dengan kembalinya otoritas Taliban pada tahun 2021 dan larangan mereka terhadap film, musik, dan hiburan lainnya di bawah interpretasi ketat mereka terhadap hukum Islam, bioskop tersebut hanya digunakan untuk film propaganda sesekali sebelum akhirnya ditutup selamanya.
Baca Juga: Praktikkan Qisas, Taliban Dilaporkan Paksa Bocah 13 Tahun Mengeksekusi Pria Pembunuh Keluarganya Pada hari Kamis, sebuah buldoser menghancurkan dinding di tengah tumpukan puing di lokasi tersebut.
Sebuah spanduk menyatakan bahwa "pasar modern standar akan dibangun".
"Hati saya hancur mendengar berita penghancuran Bioskop Ariana. Kami memiliki banyak kenangan indah dari bioskop itu," kata seorang warga Kabul berusia 65 tahun, yang menolak menyebutkan namanya karena alasan keamanan, kepada
AFP, Jumat (19/12/2025).
"Pada tahun 1970-an, bioskop ini biasa menayangkan film-film India dan Iran di tahun-tahun awal; kemudian, mereka juga mulai menayangkan film-film Rusia, Inggris, Prancis, dan Eropa," kata wanita itu.
"Mereka biasa menayangkan film-film revolusioner, film-film yang menunjukkan perjuangan rakyat, dan orang-orang menontonnya dengan penuh semangat," imbuh dia.
Pekerjaan restorasi pada tahun 2004 diawasi oleh arsitek Prancis; Frederic Namur dan Jean-Marc Lalo, dan dibiayai oleh sebuah asosiasi yang dipimpin oleh sutradara Prancis; Claude Lelouch, yang memenangkan hadiah utama Palme d'Or di Cannes pada tahun 1966 untuk film "
A Man and a Woman".
Penulis dan pembuat film Prancis-Afghanistan Atiq Rahimi, yang film pertamanya ditayangkan di Bioskop Ariana pada tahun 2004, sangat sedih mendengar berita ini.
“Bioskop Ariana bukanlah reruntuhan yang harus dihancurkan, melainkan kenangan yang harus dihidupkan kembali. Bioskop itu sudah pernah hancur sekali akibat perang saudara. Kali ini, lebih buruk lagi: bioskop itu dihapus atas nama 'modernitas'. Modernitas tanpa jiwa, tanpa gambar, tanpa keheningan bersama dalam kegelapan,” kata Rahimi kepada
AFP dari tempat pengasingan.
Ketika filmnya diputar di Bioskop Ariana, “kami percaya, untuk sesaat, bahwa budaya dapat bertahan dari kebiadaban. Menghancurkan bioskop bukanlah membangun masa depan.”
Bioskop lain di Kabul, Park Cinema, juga telah dihancurkan, dan akan digantikan oleh pusat perbelanjaan.
(mas)