JAKARTA - Wakil Ketua Umum
Partai Perindo, Angkie Yudistia menegaskan bahwa perempuan, khususnya para
ibu memiliki peran strategis dan tak tergantikan dalam proses pemulihan pascabencana. Hal ini sejalan dengan visi besar “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”.
Dalam visi tersebut pembangunan nasional tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga pada ketangguhan sosial dan kemanusiaan.
Baca juga: Bersama Partai Perindo, Angkie Yudistia Ingin Perjuangkan Hak Masyarakat Menurut Angkie, pada setiap situasi bencana, ibu sering kali menjadi aktor pertama yang memastikan keberlangsungan hidup keluarga.
“Di tengah keterbatasan dan trauma pascabencana, ibu hadir sebagai penjaga harapan, menguatkan anak-anak, mengelola kebutuhan dasar keluarga, sekaligus menjadi penggerak solidaritas di komunitas,” ujarnya, Senin (22/12/2025).
Angkie menekankan bahwa pemulihan bencana bukan semata soal membangun kembali fisik wilayah terdampak, melainkan juga memulihkan martabat, rasa aman, dan masa depan generasi berikutnya.
Di titik inilah peran perempuan menjadi sangat krusial. Ibu tidak hanya merawat, tetapi juga mendidik, menenangkan, dan menanamkan nilai ketangguhan kepada anak-anak sejak dini.
Baca juga: Tinjau Korban Bencana di Tapanuli Utara, Angela Tanoesoedibjo Dorong Segenap Kader Bantu Proses Pemulihan Korban Bencana Lebih lanjut, Angkie menyampaikan bahwa pemberdayaan perempuan dalam konteks kebencanaan harus menjadi kebijakan berkelanjutan, bukan respons sesaat.
Akses perempuan terhadap pendidikan kebencanaan, dukungan psikososial, kesehatan reproduksi, serta peluang ekonomi pascabencana perlu diperkuat agar mereka dapat kembali berkarya dan mandiri.
“Indonesia Emas 2045 hanya bisa terwujud jika kita memastikan perempuan tidak tertinggal, terutama saat mereka berada dalam situasi paling rentan. Ketika ibu bangkit, keluarga bangkit. Ketika keluarga bangkit, masyarakat pulih. Dan dari sanalah Indonesia yang tangguh dibangun,” tegas Angkie.
Partai Perindo, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan inklusif yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama pembangunan, termasuk dalam strategi penanggulangan dan pemulihan bencana. Dengan perempuan yang berdaya dan berkarya, Indonesia tidak hanya mampu pulih dari krisis, tetapi juga melangkah lebih kuat menuju masa depan.
(shf)