JAKARTA - Harga mobil listrik yang dulunya nyaris setara rumah subsidi kini jatuh ke angka puluhan juga. Bukan karena diskon pabrik, melainkan karena bekas kecelakaan. Di sinilah publik terhenyak: antara tergiur harga murah, waswas risiko, dan heran mengapa “bangkai” kendaraan kini punya nilai tawar.
Belakangan ini, lini masa media sosial dan platform lelang digital ramai oleh satu fenomena yang tak lazim: mobil bekas kecelakaan berat, atau yang populer disebut mobil laka.
Kendaraan yang ringsek, airbag mengembang, bahkan struktur rangka berubah bentuk, kini ditawarkan dengan harga yang jauh di bawah pasar normal—dan tetap laku.
Salah satu contoh yang paling menyedot perhatian adalah mobil listrik Chery Omoda E5 bekas kecelakaan yang ditawarkan oleh akun lelang online Legoas.
Kendaraan yang dalam kondisi normal dipasarkan di kisaran Rp488 juta–Rp505 juta, kini muncul di aplikasi lelang dengan harga mulai Rp95 juta, bahkan ada penawaran awal Rp62 juta untuk unit dengan kerusakan sangat berat (hampir tidak berbentuk mobil lagi).
Angka itu sontak memicu perdebatan. Warganet terbelah. Sebagian mencemooh, menyebutnya “rongsokan mahal” atau “jebakan biaya perbaikan”. Sebagian lain justru menyambutnya sebagai peluang—baik untuk donor suku cadang, proyek restorasi, hingga konversi ulang untuk kebutuhan tertentu.
Fenomena ini menandai satu hal penting: mobil bekas kecelakaan bukan lagi barang mati.
Pasar yang Diam-diam Tumbuh
Di balik hiruk-pikuk komentar warganet, terdapat realitas pasar yang lebih tenang namun konsisten. Perusahaan balai lelang kendaraan bekas laka ternyata tidak sedikit. Mereka beroperasi secara legal, berizin negara, dan memfasilitasi transaksi melalui sistem digital yang transparan.
Balai lelang digital mobil eks laka memiliki fokus sederhana: mempertemukan kendaraan bermasalah—baik bekas asuransi, fleet, maupun individu—dengan pembeli yang memahami risikonya.
“Mobil bekas kecelakaan tetap ada pasarnya. Bukan untuk semua orang, tapi jelas ada,” ujar salah satu pelaku industri lelang kendaraan yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, pembeli mobil laka terbagi ke beberapa segmen: bengkel, pemburu spare part, kolektor proyek, hingga individu yang ingin memanfaatkan sasis dan komponen tertentu.
Murah di Depan, Mahal di Belakang?
Secara ekonomi, harga mobil bekas kecelakaan memang jatuh drastis. Data pasar menunjukkan, penurunan harga bisa mencapai 65–70 persen dari nilai normal, tergantung tingkat kerusakan.
Sebagai ilustrasi:
Toyota Avanza 2020 dengan harga normal Rp180 juta, bisa turun ke Rp55–65 juta jika mengalami kerusakan berat (rangka bengkok, airbag keluar).
Mitsubishi Xpander 2021 dari Rp230 juta, bisa jatuh ke Rp70 juta.
Toyota Innova Diesel 2018 dari Rp320 juta, bisa turun ke Rp100 juta.
Namun, murah di harga beli tidak selalu berarti murah secara keseluruhan. Biaya perbaikan mobil laka berat dapat menembus puluhan hingga ratusan juta rupiah, terutama untuk mobil listrik yang melibatkan baterai tegangan tinggi, modul kontrol, dan sistem keselamatan kompleks.
Inilah yang membuat sebagian warganet bersikap skeptis. “Lebih baik beli LCGC bekas sehat,” tulis salah satu komentar. Namun komentar lain menimpali, “Untuk bengkel atau spare part, ini emas.”
Mobil Listrik: Risiko Baru, Pasar Baru
Masuknya mobil listrik bekas kecelakaan ke pasar lelang membuka babak baru. Di satu sisi, teknologi baterai dan sistem kelistrikan membuat perbaikan jauh lebih rumit. Di sisi lain, komponen mobil listrik—motor penggerak, inverter, modul baterai—memiliki nilai tinggi di pasar sekunder.
Kasus Omoda E5 menjadi contoh nyata. Dengan harga lelang Rp95 juta, unit ini jelas bukan ditujukan untuk konsumen harian. Namun bagi pelaku industri, nilainya terletak pada apa yang masih bisa diselamatkan.
Maraknya penjualan mobil bekas laka juga membawa pesan sosial yang penting: mobil yang rusak parah tetap memiliki nilai. Bagi pemilik kendaraan yang mengalami kecelakaan berat, ini menjadi semacam penghiburan ekonomi. Kendaraan mereka tidak sepenuhnya menjadi beban; masih ada pasar yang mau menghargai—meski dengan logika berbeda.
Transparansi menjadi kunci
Perusahaan lelang umumnya menyertakan foto detail, deskripsi kerusakan, dan status kendaraan. Pembeli masuk dengan kesadaran penuh, bukan ilusi.
Fenomena mobil bekas laka menegaskan satu hal: dalam ekonomi modern, hampir tak ada barang yang benar-benar tak bernilai. Bahkan kendaraan yang ringsek sekalipun, jika ditempatkan di pasar yang tepat, bisa menemukan pembelinya.
Murah atau berbahaya? Jawabannya tergantung siapa yang membeli, untuk apa, dan dengan pemahaman sejauh apa.
(dan)