BEKASI - Tidak ada sorak sorai saat jarinya menggerakkan bidak. Tidak ada tepuk tangan yang mengiringi setiap keputusan. Yang ada hanya keheningan, papan hitam-putih, dan detak waktu yang terus menekan.
Di situlah Medina Warda Aulia bertarung bukan hanya melawan lawan di depannya, tetapi juga melawan rasa mual, lelah, dan kekhawatiran sebagai seorang ibu yang tengah mengandung.
Di balik gegap gempita
SEA Games 2025 , ketika Indonesia mengoleksi 334 medali dan finis di peringkat kedua klasemen akhir, terselip kisah sunyi yang mengguncang hati.
Dari ratusan medali itu, tiga lahir dari keteguhan Medina satu emas, satu perak, dan satu perunggu diraih dalam kondisi hamil tujuh bulan. Ia bukan sekadar bertanding. Ia sedang menjaga dua kehidupan.
Medina mempersembahkan emas dari ASEAN Chess Rapid Women Quadruple, perak dari FIDE Chess Rapid Women Double, serta perunggu dari Makruk Chess Classic Mixed Quintuples. Di atas papan catur, pikirannya bekerja presisi, dingin, dan terukur.
Di balik meja pertandingan, tubuhnya menanggung perubahan besar sebagai calon ibu dari anak pertamanya. Setiap langkah bidak adalah keputusan. Setiap detik adalah pertaruhan. Namun Medina tetap tenang seolah kehamilan tak menghalangi kejernihan pikirannya.
Padahal, perjalanan menuju Bangkok bukan perjalanan yang mudah. Pemanggilan pelatnas catur SEA Games 2025 dimulai sejak Desember 2024, lalu terhenti pada Februari 2025 akibat efisiensi anggaran. Saat itu, Medina bahkan belum mengetahui dirinya tengah mengandung.
Pelatnas kembali berjalan singkat, lalu kembali terhenti saat usia kehamilannya masih empat pekan. Baru pada September 2025, persiapan berjalan efektif. Saat itu, kandungannya telah memasuki 16 pekan. Kini, di SEA Games, usia kehamilan Medina sudah 30 pekan tujuh bulan.
Berbeda dengan cabang lain yang menjalani pemusatan latihan penuh, Medina harus menempuh latihan mandiri. Setiap hari, ia menyetir sendiri dari Condet ke Kabupaten Bekasi untuk berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA).
“Capeknya lebih terasa,” katanya Medina lirih. Tidak mengeluh. Tidak meminta perlakuan istimewa.
Dalam kesunyian perjuangan itu, Medina tidak sepenuhnya sendiri. Rekan-rekan satu tim pelatnas catur menjadi sandaran membantu membawa barang, mengurus keperluan kecil, hingga membelikan kelapa muda saat ia membutuhkannya di arena SEA Games.
Ia juga tidak menuntut menu khusus. Yang penting makan cukup, vitamin aman, dan semua dikonsultasikan ke dokter serta dinyatakan lolos dari sisi antidoping. Tantangan terberat justru datang dari perjalanan udara. Turbulensi dan proses pendaratan kerap memicu mual.
Bahkan, rasa tidak nyaman kadang muncul sesaat sebelum pertandingan.Berjam-jam duduk di depan papan catur dalam kondisi hamil jelas bukan perkara ringan. Namun Medina sudah terbiasa. Ia tahu batas tubuhnya. Ia tahu kapan harus menahan, kapan harus melangkah.
Kini, medali emas SEA Games bernilai bonus hingga Rp1 miliar. Bagi Medina, angka itu bukan sekadar penghargaan, melainkan harapan. Bonus itu rencananya akan ia alokasikan untuk investasi dan tabungan pendidikan anaknya kelak.
Medina Warda Aulia pulang dari SEA Games 2025 bukan hanya sebagai peraih medali, tetapi simbol ketangguhan. Ia membuktikan bahwa kekuatan seorang atlet perempuan tak berhenti di podiumia hidup di ketekunan, pengorbanan, dan cinta yang bahkan belum lahir ke dunia.
Ketua Harian KONI Kabupaten Bekasi Abdul Halim mengatakan, prestasi yang ditorehkan Medina sangat membanggakan Indonesia maupun Bekasi. “Ini Kebanggaan buat Indonesia, dan Bekasi juga bangga punya atlet berprestasi seperti Medina,” katanya.
(sto)