floating-Bukan SUV Hardcore,...
Bukan SUV Hardcore, tapi Cukup Berani: Mencoba Jetour T2 dari Medan Offroad
Bukan SUV Hardcore,...
Bukan SUV Hardcore, tapi Cukup Berani: Mencoba Jetour T2 dari Medan Offroad
Selasa, 23 Desember 2025 - 16:23 WIB
ICE BSD - Jetour Indonesia memilih cara yang cukup berani untuk memperkenalkan karakter sesungguhnya SUV boxy Jetour T2. Bukan sekadar melaju di aspal mulus atau jalur tanah ringan, T2 ini langsung diajak menantang lintasan offroad berlumpur di kawasan Pagedangan, Serpong, Tangerang.

Medannya tidak ekstrem ala kompetisi, namun jelas sudah masuk kategori medium offroad—cukup untuk menguji sistem penggerak, traksi, dan ketahanan mesin.

Sejak roda pertama kali menyentuh lumpur basah akibat hujan, satu hal langsung terasa: Jetour T2 bukan SUV yang steril dari kompromi.

Di tanjakan licin dengan sudut kemiringan menengah, mobil sempat terlihat struggling. Ban 255/60 R19 all-terrain memang masih mampu mencengkeram, tetapi respons awal pedal gas terasa sedikit tertahan.

Bukan SUV Hardcore,...


Dan di sinilah karakter sistem all wheel drive (AWD) Jetour T2 tampil apa adanya. Tidak ada tuas mekanis atau pilihan 4H (high range) maupun 4L (low range) seperti SUV offroad konvensional.

Seluruh distribusi tenaga diserahkan sepenuhnya kepada komputer melalui sistem BorgWarner XWD dengan tujuh mode berkendara, termasuk Mud, Rock, hingga Sandy Land.

Pendekatan ini membuat pengemudi harus lebih sigap. Dalam beberapa kondisi, ada jeda tipis antara injakan pedal gas dan respons roda—sesuatu yang krusial saat melewati tanjakan lumpur pendek. Terlalu ragu, mobil kehilangan momentum; terlalu agresif, roda berisiko selip.

Namun, sistem AWD cerdas tersebut tetap bekerja. Perlahan, torsi mesin bensin 2.0 liter turbo GDI yang menghasilkan 245 dk pada 5.500 rpm dan torsi 375 Nm pada 1.750–4.000 rpm disalurkan ke roda yang memiliki traksi.

Mobil akhirnya berhasil menaklukkan tanjakan yang sempat membuat roda depan dan belakang berputar tidak sinkron.

Bukan SUV Hardcore,...


Dalam sesi uji ini, Jetour T2 beberapa kali menunjukkan gejala kenaikan overheat. Indikator overheat muncul ketika mobil dipaksa berulang kali merayap di jalur lumpur berat dengan kecepatan rendah. Pengemudi diminta berhenti sejenak, membiarkan sistem pendinginan bekerja sebelum kembali melanjutkan lintasan.

Secara teknis, Jetour T2 telah dibekali offroad radiator dengan extra fan, namun kejadian ini menunjukkan batas alami kendaraan yang memang tidak dirancang untuk terus-menerus bertempur di lumpur. Ini bukan kegagalan, melainkan pengingat bahwa desainnya memiliki orientasi jelas.

Bodi Tangguh, Kabin Tetap Nyaman

Bukan SUV Hardcore,...

Dari sisi konstruksi, Jetour T2 menunjukkan karakter solid. Struktur rangka dengan 80 persen Steel Cage dan High Density Roof, jarak sumbu roda 2.800 mm, serta ground clearance 220 mm memberi rasa percaya diri saat melibas permukaan tanah tidak rata. Underbody engine shield juga bekerja baik melindungi bagian kolong dari benturan batu.

Menariknya, di tengah guncangan luar, kabin tetap relatif tenang. Jetour mengandalkan 24 titik insulator, kaca lapis ganda, serta suspensi yang disetel tidak terlalu kaku. Suspensi belakang independen mampu meredam lubang dalam tanpa membuat penumpang terlempar.

Kenyamanan ini diperkuat oleh detail kabin: panoramic skyroof 64 inci, layar sentral 15,6 inci, driving cam 540 derajat, wading radar, 12 speaker Sony, Dual Zone Auto AC, dan filter udara CN95 di baris kedua. Semua ini menegaskan bahwa Jetour T2 tetaplah SUV yang harus nyaman dipakai setiap hari.

Bukan SUV Lumpuh, tapi Juga Bukan Petarung Setiap Pekan

Bukan SUV Hardcore,...

Kesimpulan dari pengujian ini cukup jelas. Jetour T2 mampu diajak bermain lumpur dan jalur offroad menengah. Sistem AWD-nya bekerja, sasisnya kuat, dan mesinnya bertenaga.

Namun, keterbatasan seperti absennya low range, respons gas berbasis komputer, serta potensi overheat menunjukkan bahwa mobil ini tidak diciptakan untuk offroad berat yang dilakukan rutin.

Dengan harga Rp568.000.000, Jetour T2 lebih tepat dibaca sebagai SUV dua dunia: kendaraan harian yang nyaman di kota, namun cukup berani membawa pemiliknya menuju lokasi camping, jalur tanah basah, atau hidden gem di pelosok—asal tidak setiap akhir pekan bertempur dengan lumpur.

Seperti disampaikan Marketing Director Jetour Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, pendekatan yang diusung adalah Travel+: adaptif di berbagai kondisi tanpa mengorbankan kenyamanan harian.

Jetour T2 mungkin bukan petarung garis depan di arena offroad ekstrem. Namun justru di situlah kejujurannya: tampil gagah, cukup tangguh, dan tahu batas diri.
(dan)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Jetour T1 Hadir Dua...
Jetour T1 Hadir Dua Rasa, Mana yang Lebih Layak Dibeli: ICE Rp388 Juta atau PHEV Rp538 Juta?
Adu Kuat SUV Pintar:...
Adu Kuat SUV Pintar: Jetour T1 Hybrid Tantang Dominasi Merek Jepang
SUV Boxy Lagi Naik Daun,...
SUV Boxy Lagi Naik Daun, Jetour T1 Mau Jadi Raja Baru Jalanan Kota
Spesifikasi dan Harga...
Spesifikasi dan Harga Lini SUV Jetour 2026: Dari T2, Dashing, hingga X70 Plus
Tim Halo Dayak HRX Borong...
Tim Halo Dayak HRX Borong Podium di Ajang Nasional Offroad 2026