HONG KONG - Di bawah bayang-bayang guillotine regulasi Washington yang siap memenggal operasional mereka pada Januari 2026, ByteDance justru mempertontonkan anomali pasar yang mencengangkan.
Raksasa teknologi asal China, pemilik aplikasi fenomenal TikTok, kini berdiri gagah dengan valuasi pasar yang menyentuh angka psikologis USD500 miliar atau setara Rp8.000 triliun. Artinya, valuasi TikTok 2x lebih besar dibandingkan APBN Indonesia di 2025.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan pernyataan perlawanan bahwa strategi bertahan hidup di Negeri Paman Sam justru menjadi katalis bagi lonjakan nilai perusahaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Lonjakan valuasi ini terjadi seiring dengan langkah ByteDance mematangkan rencana penyelamatan operasionalnya di Amerika Serikat (AS). Dari posisi valuasi USD400 miliar pada awal tahun ini, nilai perusahaan merangkak naik secara signifikan.
Sentimen positif investor kian menguat setelah perusahaan investasi China membeli saham ByteDance dengan patokan valuasi USD480 miliar pada November lalu.
Siasat Usaha Patungan: Kompromi demi Kelangsungan
Pemicu utama lonjakan kepercayaan ini adalah kepastian nasib TikTok di AS. Dengan tenggat waktu undang-undang "jual-atau-blokir" (sell-or-ban law) yang jatuh pada 23 Januari 2026, CEO TikTok Chew Shou Zi pekan lalu telah menginformasikan kepada karyawannya mengenai penandatanganan perjanjian yang mengikat untuk mendivestasikan entitas AS mereka.
Solusi yang ditempuh adalah pembentukan usaha patungan baru bernama TikTok USDS Joint Venture, yang dijadwalkan efektif beroperasi sehari sebelum tenggat waktu, yakni 22 Januari 2026. Struktur kepemilikan entitas baru ini dirancang untuk meredam kekhawatiran keamanan nasional AS tanpa memutus total aliran pendapatan ByteDance.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, konsorsium investor Amerika dan sekutunya—termasuk Oracle, Silver Lake, dan MGX yang berbasis di Abu Dhabi—akan menguasai 50 persen saham entitas tersebut, dengan masing-masing memegang 15 persen.
Sementara itu, afiliasi dari investor ByteDance yang sudah ada akan memegang 30,1 persen, dan ByteDance sendiri akan mempertahankan kepemilikan minoritas sebesar 19,9 persen.
"Investor senang dengan ketentuan kesepakatan ini karena ByteDance dapat terus meraup pendapatan dari TikTok di AS," ungkap salah satu sumber yang terlibat langsung dalam negosiasi tersebut.
Mesin Uang yang Menyaingi Meta
Di balik drama geopolitik, kinerja fundamental ByteDance terbukti sangat solid. Proyeksi keuangan terbaru mengindikasikan bahwa perusahaan ini akan menutup tahun 2025 dengan rekor laba bersih mendekati USD50 miliar (Rp800 triliun).
Angka fantastis ini dicapai setelah perusahaan berhasil membukukan laba sekitar USD40 miliar (Rp640 triliun) hanya dalam tiga kuartal pertama tahun ini.
Jika proyeksi tersebut terealisasi, profitabilitas ByteDance akan sejajar dengan raksasa media sosial AS, Meta Platforms Inc.. Pertumbuhan laba ini didorong oleh diversifikasi penawaran digital perusahaan serta keberhasilan TikTok yang terus berekspansi secara global meskipun menghadapi tekanan politik.
ByteDance bahkan menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 20 persen hingga mencapai USD186 miliar (Rp2.976 triliun) pada 2025.
Peta Persaingan Unicorn Global
Meskipun mencatatkan rekor valuasi tertinggi bagi perusahaan teknologi China, ByteDance masih harus mengakui keunggulan beberapa rekan sejawatnya di kancah global.
OpenAI dilaporkan tengah mencari pendanaan baru yang dapat melambungkan valuasinya hingga USD830 miliar (Rp13.280 triliun).
Sementara itu, SpaceX milik Elon Musk, yang bersiap untuk penawaran umum perdana (IPO) tahun depan, dinilai sebesar USD800 miliar (Rp12.800 triliun) dalam penjualan saham internal baru-baru ini.
(dan)