JAKARTA -
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama organisasi Caritas Indonesia mengimbau rentannya ancaman
perdagangan manusia di lokasi pasca bencana di Sumatera-Aceh.
Di momen pemulihan ini, KWI bersama Caritas Indonesia mengingatkan para masyarakat untuk tak tergiur ajakan migrasi dari pihak tak resmi.
RD. Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia mengatakan ancaman ini bisa terjadi mengingat banyak korban bencana banjir yang kehilangan dokumen penting seperti ijazah, KTP dan surat-surat berharga lainnya. Ini bisa membuat para korban kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah wilayahnya kembali pulih.
Baca juga: Data Terbaru Bencana Sumatera 4 Januari 2026, 242.174 Orang Masih Mengungsi “Berdasarkan kesaksikan para staf dan relawan caritas di sana, banyak warga terdampak bencana kehilangan keluarga, pekerjaan bahkan dokumen penting, kartu identitas dan sertifikat lainnya. Di tengah situasi tersebut, sangat rentan perdagangan orang dan migrasi yang tidak aman,” ucap Romo Fredy dalam konferensi pers daring, Senin (5/1/2026).
Caritas Indonesia menilai bencana ikut memicu krisis sosial. Imbas hilangnya harta benda dan dokumen bisa membuat para korban lengah hingga mudah terpengaruh oleh predator perdagangan manusia.
Baca juga: Tito Sebut Prabowo Minta Siswa Sekolah Kedinasan Turun ke Lokasi Bencana “Dalam kondisi seperti ini, warga mudah percaya pada tawaran yang tampak menolong, tetapi sebenarnya berbahaya,” tambahnya.
Dinna P. Raharja, akademisi, praktisi, dan co-founder Synergy Policies menegaskan pemerintah bisa mempermudah dan menyegerakan pembaharuan dokumen bagi para korban banjir Sumatera-Aceh ini.
Tindakan tersebut bisa membantu korban untuk mendapatkan pekerjaan layak dan bisa terhindar dari maraknya ancaman perdagangan manusia.
“Itu sebabnya mohon disuarakan. Kita meminta pemerintah agar mereka bisa mendapatkan lagi dokumen-dokumen lagi yang rusak,” tambahnya.
(nnz)