JAKARTA - Di kota-kota besar Indonesia, perubahan pola kerja dan
gaya hidup yang semakin sedentari berkontribusi terhadap meningkatnya keluhan muskuloskeletal, seperti nyeri punggung, leher, bahu, hingga gangguan fungsi sendi. Aktivitas duduk berkepanjangan, minimnya aktivitas fisik, serta beban kerja yang tinggi menjadi faktor risiko utama pada kelompok usia produktif.
Kondisi ini mendorong meningkatnya kebutuhan akan pelayanan rehabilitasi
fisioterapi sebagai intervensi medis yang berfokus pada pemulihan fungsi gerak, pengelolaan nyeri, serta pencegahan cedera berulang. Fisioterapi juga berperan penting dalam menjaga kapasitas fungsional pasien agar tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Perbedaan Fisioterapi dan Ortopedi: Dua Profesi Medis yang Sering Disamakan Founder sekaligus Head Physiotherapist Physiorehab, Simon Prasetyo, mengatakan, “Fisioterapi kini tidak lagi dipandang semata sebagai layanan pemulihan saat cedera, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Melalui Physiorehab, kami ingin membantu masyarakat memahami tubuhnya dengan lebih baik, menjaga mobilitas, dan tetap aktif secara aman dalam jangka panjang.”
Dari sisi medis, fisioterapi berperan penting dalam membantu pemulihan fungsi gerak pasca-cedera dan pasca-operasi, sekaligus mencegah kekambuhan yang dapat mengganggu produktivitas. Pendekatan rehabilitasi modern menempatkan fisioterapi tidak hanya sebagai terapi kuratif, tetapi sebagai bagian dari manajemen kesehatan jangka panjang berbasis fungsi dan kualitas hidup,’’ujar Simon.
Gaya Hidup Modern dan Minim Aktivitas Fisik Picu Masalah Kesehatan Gerak
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan muskuloskeletal seperti nyeri punggung, cedera lutut, gangguan bahu, hingga cedera akibat aktivitas olahraga dan pekerjaan mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh atlet, tetapi juga oleh masyarakat usia produktif, dengan nyeri punggung bawah sebagai salah satu keluhan yang paling sering ditemui, terutama akibat pola kerja duduk terlalu lama atau minim aktivitas fisik (sedentari), postur tubuh yang kurang ergonomis, serta aktivitas fisik yang dilakukan tanpa pendampingan yang tepat.
Meningkatnya tren olahraga lari dan padel di berbagai kota di Indonesia membawa dampak positif bagi gaya hidup masyarakat, namun juga diiringi dengan meningkatnya risiko cedera. Dari sudut pandang medis, aktivitas dengan beban berulang dan perubahan arah yang cepat menuntut kesiapan otot, sendi, serta kontrol gerak yang optimal.
Nyeri lutut menjadi salah satu keluhan yang paling sering dialami pelari dan pemain padel akibat beban berulang, gerakan mendadak, serta kurangnya stabilitas otot penopang. Edukasi mengenai teknik gerak yang benar, penguatan otot, dan pentingnya pemulihan menjadi langkah preventif untuk menurunkan risiko cedera dan menjaga keberlanjutan aktivitas olahraga.
“Fisioterapi berperan penting dalam memulihkan fungsi gerak sekaligus mencegah cedera. Melalui evaluasi pola gerak, perbaikan postur, dan latihan yang disesuaikan dengan kondisi individu, fisioterapi membantu masyarakat tetap aktif dan bergerak secara aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari,”ujar Simon.
Physiorehab menghadirkan layanan fisioterapi komprehensif untuk mendukung gaya hidup aktif dan pemulihan fungsional, mulai dari penanganan cedera olahraga, nyeri otot dan sendi, rehabilitasi pasca operasi, penggantian sendi lutut dan panggul, hingga cedera tulang belakang.
Layanan Physiorehab mengintegrasikan pemeriksaan klinis yang menyeluruh, manual therapy, exercise therapy, serta dukungan peralatan rehabilitasi modern. Dengan standar assessment yang terstruktur dan program terapi progresif berbasis aktivitas individu, fisioterapi tidak hanya berfokus pada pengurangan nyeri, tetapi juga pada pemulihan fungsi optimal dan pencegahan cedera berulang.
Fisioterapi di Physiorehab dapat diakses oleh seluruh kelompok usia, mulai dari anak, dewasa, hingga lansia, dengan pendekatan yang disesuaikan secara personal sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Menjawab kebutuhan layanan rehabilitasi yang kian meningkat salah satunya di Medan, Physiorehab memperluas layanannya dengan membuka cabang klinik fisioterapi di Medan. Physiorehab menekankan pada pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan aspek medis, pencegahan cedera, dan gaya hidup sehat, selaras dengan karakter masyarakat urban yang aktif dan produktif.
Peresmian klinik ini digelar pada Minggu (11/1/2026) dan dihadiri oleh Founder sekaligus Head Physiotherapist Physiorehab, Simon Prasetyo, bersama tim terapis Physiorehab.
Physiorehab menerapkan standar klinis yang ketat dan konsisten di seluruh cabang, termasuk Medan, dengan layanan yang didukung oleh fisioterapis profesional bersertifikasi. Seluruh tim telah melalui program standarisasi dan pelatihan internal terstruktur sebelum bertugas, guna memastikan mutu layanan yang seragam.
Saat ini, Physiorehab mengoperasikan sembilan lokasi layanan di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Surabaya, dan Medan.
(nnz)