TEHERAN - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
telah memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa negaranya siap berperang jika Washington ingin menguji opsi militernya.
Teheran tidak gentar meski Presiden Amerika Donald Trump telah mengancam akan mengambil tindakan militer sebagai respons atas tindakan keras Iran terhadap protes anti-pemerintah.
Dalam wawancara dengan
Al Jazeera Arabic pada hari Senin (12/1/2026), Araghchi mengatakan saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka di tengah gejolak yang sedang berlangsung, tetapi menekankan bahwa negaranya "siap untuk semua opsi".
Baca Juga: AS Ancam Serang Iran Jilid 2, Ini Perbandingan Kekuatan Militer Keduanya Dia mengeklaim bahwa Iran sekarang memiliki "kesiapan militer yang besar dan luas" dibandingkan dengan perang 12 hari pada Juni tahun lalu.
Komentarnya menyusul pernyataan Trump pada hari Minggu, di tengah protes nasional di Iran yang dipicu oleh kesulitan ekonomi yang telah meningkat menjadi seruan yang lebih luas untuk perubahan sistemik. Presiden AS itu mengatakan dia sedang mempertimbangkan "opsi kuat" untuk Iran atas tindakan keras kepemimpinannya terhadap protes, termasuk potensi tindakan militer.
Trump, yang baru-baru ini memerintahkan penculikan Presiden Venezuela sayap kiri Nicolas Maduro dalam intervensi pasukan khusus Delta Force AS, mengatakan bahwa pertemuan sedang diatur dengan Teheran untuk bernegosiasi tentang program nuklirnya. "Tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan," kata Trump.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang telah diuji sebelumnya, kami siap untuk itu,” kata Araghchi, menambahkan bahwa dia berharap AS akan memilih “opsi bijak” dialog.
"Mereka yang mencoba menyeret Washington ke dalam perang untuk melayani kepentingan Israel," ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi menyinggung jumlah korban tewas yang terus meningkat dalam protes nasional di Iran. Dia mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa “unsur-unsur teroris” telah menyusup ke kerumunan demonstran dan menargetkan pasukan keamanan dan demonstran.
Teheran telah menyalahkan AS dan Israel karena memprovokasi kerusuhan di Iran selama dua minggu terakhir.
Lebih dari 100 personel keamanan telah tewas dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan media pemerintah Iran, sementara aktivis oposisi mengatakan jumlah korban tewas lebih tinggi, termasuk ratusan demonstran.
Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, terlebih arus informasi dari Iran terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis lalu.
Araghchi mengatakan pada hari Senin bahwa layanan internet akan dilanjutkan kembali berkoordinasi dengan dinas keamanan. Kelompok pemantau internet NetBlocks mengatakan pada pukul 16.29 GMT pada hari Senin bahwa Iran telah offline selama 96 jam.
Araghchi mengatakan bahwa komunikasinya dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff telah berlanjut sebelum dan sesudah protes telah berlangsung. Menurutnya, bahwa ide-ide yang telah dibahas dengan Washington sedang dipelajari di Teheran.
"[Namun], ide-ide dan ancaman yang diusulkan Washington terhadap negara kami tidak sesuai," kata Araghchi.
“Kami siap duduk di meja perundingan nuklir, asalkan tanpa ancaman atau perintah,” ujarnya, mempertanyakan apakah Washington “siap untuk negosiasi yang adil dan jujur”.
“Ketika sudah siap, kami akan mempertimbangkan masalah ini dengan serius,” katanya.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pada hari Minggu bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika Washington ikut campur dalam kerusuhan saat ini. Dia memperingatkan Washington tentang “kesalahan perhitungan”.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menuduh Iran mengirimkan pesan yang “sangat berbeda” kepada AS secara pribadi, dibandingkan dengan pernyataan publiknya. Itu disampaikan Leavitt dalam sebuah wawancara dengan program
Fox News "America Reports" pada hari Senin.
Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan tawaran Iran untuk terlibat dalam pembicaraan militer lebih lanjut, bahkan ketika Trump sedang mempertimbangkan serangan terhadap negara tersebut.
Tahun lalu, AS mengebom tiga situs nuklir Iran ketika bergabung dengan perang 12 hari Israel melawan Iran.
(mas)