JAKARTA - Pernah lihat sosok gaib Butu Ijo? Makhluk bertubuh besar seperti raksasa dengan tubuh berwarna hijau ini begitu mengerikan. Jika penasaran, makhluk ini digambarkan dalam film Penunggu Rumah: Buto Ijo.
Namun, menilik ke belakang layar, untuk menghadirkan Buto Ijo versi live action yang benar-benar hidup, tim produksi menggandeng tim prostetik berpengalaman di film-film horor Indonesia.
Kostum Buto Ijo dibuat full body dan dilapisi prostetik di hampir seluruh tubuh aktor. Hasilnya memang terlihat nyata dan menyeramkan—namun konsekuensinya tidak main-main.
Kostum tersebut sangat berat, lengket, dan minim sirkulasi udara. Aktor pemeran Buto Ijo, Pratito Wibowo, bahkan kerap mengalami kesulitan bernapas saat mengenakannya.
Dalam satu sesi pengambilan gambar, biasanya kostum hanya bisa dipakai selama 1–2 take sebelum harus dilepas agar aktor bisa mengambil napas dan didinginkan kembali. Padahal, proses syuting dilakukan di studio ber-AC. Tubuh aktor tetap basah kuyup karena panas yang terperangkap di dalam kostum.
“Kami benar-benar harus ekstra hati-hati. Keselamatan aktor jadi prioritas. Kalau dipaksakan, apalagi di lokasi outdoor atau ruangan tanpa AC, risikonya terlalu besar,” kata Gandhi Fernando selaku aktor, produser, dan penulis film horor ini
Tantangan lain dari film yqng akan tayang di bioskop mulai 15 Januari 2026 ini datang dari sisi desain. Buto Ijo dikenal luas sebagai sosok folklor yang sering divisualisasikan secara kartunis. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghadirkan sosok ini ke layar lebar tanpa jatuh ke kesan lucu atau ‘ngebadut’, namun juga tidak terlalu monster hingga kehilangan identitas dongengnya.
“Kita cari titik tengah. Harus tetap seram, tapi penonton masih merasa: ini Buto Ijo yang mereka kenal,” ujar Gandhi.
Seluruh tampilan Buto Ijo dalam film ini didominasi oleh practical effect, bukan CGI. Efek digital hanya digunakan pada bagian mata—yang justru menjadi salah satu aspek tersulit. Warna merah pada mata harus terlihat hidup dan mengintimidasi, tanpa berlebihan hingga terasa seperti karakter tokusatsu.
Dengan pendekatan praktikal yang serius dan desain kostum yang ekstrem, Penunggu Rumah: Buto Ijo berusaha menghadirkan horor yang lebih nyata, lebih dekat, dan lebih membumi—sekaligus membuka kemungkinan lahirnya sosok-sosok horor Indonesia yang lebih beragam di masa depan.
(dra)