CARACAS - Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela dan penculikan Presiden Nicolas Maduro merupakan tindakan perang. Pernyataan itu ditegaskan Jaksa Agung negara Amerika Selatan itu, Tarek William Saab, kepada RT.
Pasukan Amerika melakukan serangkaian serangan udara di ibu kota Venezuela, Caracas, dan beberapa wilayah lain di negara itu pada 3 Januari, sementara komando AS menculik Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Mereka dibawa ke kapal perang AS dan kemudian diterbangkan ke New York, di mana pekan lalu mereka hadir di pengadilan atas tuduhan konspirasi perdagangan narkoba. Keduanya telah menyatakan tidak bersalah.
Dalam wawancara dengan RT Spanyol yang ditayangkan pada hari Rabu, Saab menyebut operasi itu sebagai kejahatan agresi yang "belum pernah terjadi sebelumnya" yang tidak memiliki dasar dalam hukum AS atau internasional.
Ia berpendapat Washington "tidak memiliki yurisdiksi pidana" untuk menuntut "seorang presiden, kepala negara dari negara berdaulat."
Saab juga mencatat para pejabat AS telah mengakui bahwa apa yang disebut "Kartel Matahari" –jaringan kriminal yang diduga beroperasi di dalam dinas keamanan Venezuela – "tidak ada."
Jaksa tersebut bersikeras penggerebekan dan penculikan tersebut melanggar Piagam PBB, Konstitusi AS, dan perjanjian hak asasi manusia utama.
Hal ini, katanya, menjadikan Maduro sebagai "tawanan perang yang kekebalan pribadi dan diplomatiknya telah dilanggar."
Saab mengklaim tujuan sebenarnya adalah untuk "merebut minyak dan kekayaan alam Venezuela," bukan untuk mempromosikan demokrasi atau memerangi narkotika.
Ia berpendapat retorika AS sebelumnya tentang "kediktatoran" Venezuela dan perubahan rezim telah "runtuh berkeping-keping," dan Washington sekarang secara terbuka mengakui energi adalah fokusnya.
Setelah penangkapan Maduro, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan "menjalankan" Venezuela selama periode transisi dan membutuhkan "akses total... ke minyak dan hal-hal lain di negara mereka."
“Ini membawa kita kembali lebih dari 200 tahun yang lalu, ketika Kekaisaran Spanyol menjarah sumber daya Amerika dengan mengorbankan nyawa jutaan penduduk asli,” ujar Saab.
Saab menyerukan “pembebasan mutlak dan tanpa syarat” Maduro dan Flores pada sidang yang dijadwalkan pada bulan Maret, memperingatkan preseden ini dapat digunakan terhadap para pemimpin “di negara mana pun di Eropa, Amerika Latin, Asia, atau Afrika.”
Baca juga: Mengapa Akses ke Minyak Mentah Berat Venezuela Bikin Girang Kilang Minyak AS? (sya)