JAKARTA - Waspada, modus penipuan daring dengan kedok pengembalian dana atau refund menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini semakin marak menyasar konsumen jasa logistik di Tanah Air.
Para pelaku kejahatan siber memanfaatkan celah psikologis kepanikan konsumen dan minimnya literasi digital untuk menguras saldo rekening dalam hitungan detik.
Industri logistik nasional kini tengah menghadapi tantangan paradoksal. Di satu sisi, volume pengiriman barang meningkat pesat seiring digitalisasi ekonomi, namun di sisi lain, hal ini membuka "lahan basah" bagi sindikat penipu.
Berdasarkan data survei tahun 2025 yang dirilis Diginex bersama Inventure dan Ivosights, tercatat angka yang mengkhawatirkan: 26,5 persen masyarakat Indonesia mengaku pernah menjadi koran penipuan daring (online scam).
Statistik ini bukan sekadar angka di atas kertas. Laporan Online Scams in Indonesia dari Kaspersky Lab turut mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan penipuan digital tertinggi di kawasan ASEAN.
Realitas inilah yang mendorong J&T Cargo meluncurkan kampanye literasi bertajuk “Jangan Ketipu, Cek Dulu” pada 21 Januari 2026, sebagai benteng pertahanan terakhir bagi konsumen.
Modus Operandi: Memainkan Psikologi Korban
Analisis terhadap pola kejahatan ini menunjukkan adanya evolusi metode yang semakin canggih. Para pelaku tidak lagi sekadar menebar jaring acak, melainkan melakukan pendekatan terarah (targeted) dengan menyamar sebagai petugas layanan pelanggan (customer service).
Berdasarkan laporan yang masuk ke Hotline Customer Service Center J&T Cargo, modus penipuan refund melalui QRIS menjadi tren kejahatan yang paling sering dilaporkan.
Skemanya terstruktur rapi: pelaku menghubungi pelanggan—seringkali melalui pesan instan WhatsApp—dengan dalih adanya kendala dalam pengiriman paket.
Di sinilah permainan psikologis dimulai. Pelaku menciptakan situasi mendesak (sense of urgency) yang membuat korban panik, misalnya dengan mengatakan paket tertahan, rusak, atau hilang.
Sebagai solusi, pelaku menawarkan pengembalian dana (refund) instan. Korban kemudian dikirimi sebuah kode QRIS. Dengan manipulasi verbal, korban digiring untuk memindai kode tersebut dengan narasi bahwa dana akan masuk ke rekening mereka.
Padahal, secara logika sistem pembayaran digital, memindai QRIS adalah mekanisme untuk mentransfer dana keluar (membayar), bukan menerima dana.
Ketidaktahuan akan mekanisme dasar inilah yang dimanfaatkan penipu. Saat korban memasukkan PIN, alih-alih menerima refund, saldo mereka justru berpindah ke rekening pelaku.
"Pelaku sering mengirimkan pesan mendesak yang membuat pelanggan panik sehingga tidak sempat melakukan pengecekan. Untuk itu, perlu dipahami bahwa J&T Cargo tidak pernah memproses refund melalui QRIS, rekening pribadi, maupun tautan yang dikirim lewat pesan instan," tegas Eko Erwanto, SPV Hotline Customer Service Center J&T Cargo.
Selain modus QRIS yang menyerang sisi finansial secara langsung, J&T Cargo juga mencatat varian penipuan lain yang tak kalah meresahkan. Pelaku kerap memalsukan dokumen digital, seperti membuat resi fisik hasil suntingan (editing) yang tampak meyakinkan, hingga mengirimkan surat palsu menggunakan kop surat (kop) perusahaan untuk meminta uang jaminan.
Langkah Mitigasi: Verifikasi adalah Kunci
Di tengah gempuran rekayasa sosial ini, verifikasi mandiri menjadi satu-satunya tameng yang efektif. Dalam kampanye “Jangan Ketipu, Cek Dulu”, J&T Cargo menekankan protokol keamanan yang wajib diadopsi oleh setiap konsumen.
Pertama, validasi informasi hanya boleh dilakukan melalui kanal resmi. Pelanggan diimbau untuk hanya mengakses situs jtcargo.id dan secara tegas menghindari tautan dengan domain asing atau yang dipersingkat (seperti bit.ly) yang tidak dikenal. Kedua, pengecekan nomor resi harus dilakukan di sistem resmi; jika nomor resi tidak terdaftar, hampir dipastikan dokumen tersebut palsu.
Ketiga, dan yang paling krusial terkait transaksi finansial, konsumen harus mengabaikan segala bentuk permintaan refund atau pembayaran tambahan yang diarahkan melalui QRIS atau transfer ke rekening pribadi. Perusahaan logistik resmi tidak pernah menggunakan rekening perorangan untuk transaksi korporasi.
"Jika menerima pesan atau tautan yang mencurigakan, jangan panik dan terburu-buru merespons. Luangkan waktu untuk melakukan pengecekan dan verifikasi. Langkah sederhana ini dapat membantu mencegah kerugian yang jauh lebih besar," tambah Eko.
(dan)