CHINA - Solid-state battery dianggap “holy grail” kendaraan listrik karena beberapa alasan fundamental.
Alasan pertama, keamanan. Baterai solid-state tidak menggunakan komponen cair mudah terbakar seperti pada baterai lithium-ion konvensional. Artinya, risiko runaway thermal secara teori bisa ditekan.
Kedua, densitas energi lebih tinggi. Lebih banyak energi di ruang yang sama = mobil bisa lebih jauh atau bobot kendaraan bisa lebih ringan.
Jika tren ini benar-benar mature, efeknya bukan hanya pada konsumen, tetapi pada struktur industri: desain platform kendaraan berubah, ruang kabin lebih fleksibel, bobot berkurang, dan efisiensi meningkat.
Tidak mengherankan bila pemain global berlomba.
Di Barat, nama besar seperti QuantumScape sudah lama jadi pusat perhatian. Bahkan Volkswagen sudah berinvestasi sejak 2012 dan berencana melisensikan teknologi QuantumScape untuk diproduksi oleh anak usaha baterainya, PowerCo.
Sementara itu, perusahaan AS lainnya, Factorial, mendapat dukungan investor strategis seperti Mercedes-Benz dan Stellantis.
ES8 Shooting Brake: Range 1.000 Km Jadi Tahap Pemanasan
Sebelum Liefeng, Chery pada awal Desember 2025 sempat menyatakan bahwa Exeed ES8 Shooting Brake akan menjadi model Exeed pertama yang membawa baterai solid-state, dengan jarak tempuh 1.000 kilometer.
Secara desain, bagian depan ES8 dan Liefeng disebut sangat mirip—indikasi bahwa Exeed mungkin menyiapkan satu keluarga desain untuk mobil solid-state mereka, sekaligus membangun identitas visual baru: “EV generasi selanjutnya”.
Bukan Sekadar Mobil, tapi Perebutan Persepsi
Di pasar mobil listrik, teknologi bukan hanya soal spesifikasi—tetapi juga perebutan kepercayaan dan persepsi konsumen.
Konsumen EV global masih “bernegosiasi” dengan tiga kecemasan utama:
- Range anxiety (takut baterai habis)
- Charging time (lama mengisi)
- Degradasi baterai + safety
Chery menembak tiga isu itu langsung dari hulunya: solid-state.
Namun di sisi lain, industri selalu punya pertanyaan yang lebih dingin dan realistis: biaya produksi.
Solid-state selama ini dianggap mahal dan rumit untuk diproduksi massal. Karena itulah banyak perusahaan memilih jalur bertahap dan menunda skala besar.
Ketika Chery menargetkan 2027 sebagai awal mass production, target itu menunjukkan mereka mengakui adanya “jurang” antara prototipe dan jalur pabrik.
Jika Chery berhasil melewati jurang ini lebih cepat dari pesaing, mereka bukan hanya menjual mobil. Mereka bisa menjadi penentu standar baru: bahwa mobil listrik tidak harus kompromi antara jarak, aman, dan performa.
(dan)