JAKARTA - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil setelah pasar merespons keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membatalkan ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland. Meredanya ketegangan geopolitik AS–Eropa membuat perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada faktor fundamental, terutama kekhawatiran kelebihan pasokan minyak global.
Minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat berfluktuasi sepanjang perdagangan Kamis. Pada awal sesi, harga WTI turun di bawah 60 dolar AS per barel, sementara Brent melemah ke bawah 65 dolar AS per barel, seiring pasar menyesuaikan ekspektasi setelah risiko geopolitik mereda.
"Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak akan memberlakukan Tarif yang dijadwalkan berlaku," tulis Trump di platform Truth Social miliknya dikutip dari Al Jazeera, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga: Apakah AS Akan Gunakan Kekuatan Militer untuk Caplok Greenland? Trump: No Comment! Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Dalam forum itu, ia mengumumkan telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, yang sekaligus membatalkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap negara-negara Eropa mulai 1 Februari.
Meski demikian, kesepakatan tersebut dinilai masih minim rincian. Juru bicara NATO mengonfirmasi bahwa Rutte tidak menyarankan kompromi apa pun terkait kedaulatan selama diskusi dengan Trump. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen juga menegaskan posisi serupa dengan menyatakan bahwa "kami tidak bisa bernegosiasi mengenai kedaulatan kami".
Di sisi lain, berkurangnya risiko geopolitik belum cukup kuat untuk mengangkat harga minyak secara signifikan. Kekhawatiran kelebihan pasokan tetap membayangi pasar meskipun Badan Energi Internasional (IEA) merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 sebesar 70.000 barel per hari menjadi 930.000 barel per hari, dengan perkiraan surplus pasokan sekitar 3,69 juta barel per hari.
"Inventaris minyak mentah yang tinggi membatasi kenaikan lebih lanjut pada harga minyak di pasar yang kelebihan pasokan," kata Yang An, analis di Haitong Futures. Data American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat 3,04 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Januari.
Baca Juga: Kuat Mana AS vs NATO Jika Perang Dunia III Pecah karena Greenland? Sementara itu, CEO Saudi Aramco Amin Nasser menepis pandangan mengenai kelebihan pasokan besar-besaran. Berbicara di Davos kepada CNBC, ia menyebut proyeksi tersebut terlalu dilebih-lebihkan dan menegaskan bahwa permintaan energi global masih tetap kuat.
(nng)