KALI Bekasi diyakini merupakan sungai kuno dengan berbagai cerita asal usulnya. Salah satunya, Kali Bekasi disebutkan dalam Manuskrip Prasasati Tatar Sunda Kuno. Disebutkan bahwa
Kali Bekasi salah satu peninggalan dari
Kerajaan Tarumanegara yangmemerintah pada abad 5-7 Masehi.
Tulisan manuskrip prasasti yang ditinggalkan kerajaan tertua kedua di Nusantara ini di dalamnya disebutkan bahwa Kali Bekasi sengaja digali untuk mengendalikan bencana banjir kuno. Nama Bekasi berawal dari nama Sungai Candrabhaghadapat diartikan berawalan kata Bekasi-Bhagasasi-Baghacandra-Chandabagha (Sasi-Candra-Bulan).
Baca juga: Purnawarman, Raja Tarumanegara Penakluk Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat Raja Tarumanegara, Purnawarman yang berkuasa pada tahun 317-356 Saka (395-434 Masehi) itu menitahkan menggali Kali Bekasi. Raja Pasundan ini berkuasa di wilayah Sunda Kuno (Wilayah Barat) yang membentang meliputi Bogor, Bekasi, Jakarta, Karawang, Banten dan Purbalingga (Jateng).
Foto/IstSedangkan pusat Ibu Kota Kerajaan Tarumanegara ini berada di Utara Bekasi yang aat ini berada di wilayah Kecamatan Babelan dan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Hal itu dikuatkan dari banyak temuan-temuan artefak dari beberapa situs di wilayah Utara Bekasi.
Berdasarkan catatan Pemkot dan Pemkab Bekasi, kerajaan tersebut bisa dikatakan merupakan kerajaan Hindu pertama di Pulau Jawa. Sebab, Kerajaan ini meninggalkan sebuah Candi Jiwa di Batu Jaya yang berada di perbatasan Kabupaten Bekasi dan Karawang.
Baca juga: 10 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang Berbentuk Prasasti Beserta Lokasinya Raja yang paling terkemuka dan banyak menorehkan jejak kemasyhuran Kerajaan Tarumanegara ini dianggap sebagai penjelmaan dari Dewa Wisnu. Kerajaan ini sangatberjaya di bidang pertanian, perikanan, dan perdagangan. Sehingga kehidupan rakyatnyasangat sejahtera.Namun dibalik itu semua, bencana banjir kerap menghantui kerajaan tersebut.
Foto/IstAlhasil, Sang Prabu memprakarsai pembuatan saluran air untuk pertanian dan mencegah banjir. Sebab, wilayah Bekasi yang berada di Timur Jakarta ini mempunyai kontur tanah miring dari permukaan laut.
Pada Tahun 417 Masehi, Raja Purnawarman mengeluarkan titahnya dengan memerintahkan pasukannya yang saktimandraguna agar bersama masyarakatnya untuk melakukan penggalian dari wilayah Bogor hingga Bekasi untuk membuat saluran air.
Penggalian itu dilakukan di Sungai Gomati dan Candrabhaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 Kilometer). Penggalian ini merupakan teknologi kuno untuk mengalirkan air banjir yang kerap menerjang wilayah Kerajaan Tarumanegara.
Selesai penggalian, Sang Prabu kemudian mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Lalu mengadakan pesta untuk rakyatnya. Bukti sejarah ini ditinggalkan dari beberapa manuskrip prasasti yang ditemukan di beberapa tempat.
Dalam manuskrip Prasasti Tatar Sundayang tercatat di Prasasti Ciautureun peninggalan dari Kerajaan Tarumanegarayang tersimpan hingga kini di Kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Lalu diperkuat dari Prasasti Pasir Koleangkak. Prasasti ini terletak di Kampung Pasir Gintung RT 02/RW 04, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung dan Prasasti Kebon Kopi ini terletak di Kampung Muara, termasuk wilayah Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor.
Prasasti yang menggunakan aksara Pallawa berbahasa Sanskerta bersama tapak kaki Raja Purnawarman juga banyak ditemukan di wilayah Utara Kabupaten Bekasi dan Cilincing Jakarta Utara menyebutkan sejarah Kali Bekasi. Baca juga: Sejarah Tambun Bekasi yang Dulunya Perkebunan Milik Saudagar Tionghoa Ternama
Dalam tulisan aksara Pallawa berbahasa Sanskerta, dalam Prasasti ini menyebutkan:
“Dulu Kali Candrabhagha (Kali Bekasi) di gali Purnawarman, Maharaja yang mulia yang mempunyai lengan kencang dan kuat. Setelah sampai ke istana, kali dialirkan ke laut. Istana Kerajaan Baginda Termashur.
Kemudian baginda Parnuwarman menitahkan lagi menggali sebuah kali (sungai). Kali ini sangat indah dan jernih. Kali ini di sebut kali Gomati. Kali ini mengalir melalui kediaman nenekanda Raja Purnawarman.
Kali Gomati, (galian itu ) 6.122 tumbak panjangnya, pekerjaan ini di mulai pada hari baik, tanggal 8 Paro Petang Bulan Phalguna.
Kemudian disudahi pada hari tanggal ke 13 Paro Terang Bulan Caitra. Jadi hanya 21 harisaja untuk itu diadakan selamatan yang dilaksanakan para Brahmana. Untuk selamatan itu, Raja Purnawarman menghadiahkan 1.000 ekor sapi”.
Dalam tulisan itu, dengan jelas bahwa Raja Purnawarman pernah memerintahkan untuk penggalianKali Candrabhagha (Kali Bekasi)lalu Kali Gomati. Dari sini kita lihat, Purnawarman adalah raja yang sangat memperhatikan rakyatnya.
Penggalian ini sangat memeperhatikan kesejahteraan rakyat dan membuktikan pengetahuan bertani Kerajaan Tarumanegara sudah cukup maju pada jamannya. Sungai itu digali adalah terusan untuk mengalirkan air dari hulu di Bogor hingga Bekasi ke laut Utara Jawa.
Putra Pendiri Tarumanegara
Purnawarman merupakan putra Rajaresi Darmayawarmanguru putra Jayasingawarman. Maharesi Jayasingawarman, pendiri kerajaan Tarumanagara adalah menantu sang Prabu Dewawarman VIII, raja terakhir kerajaan Salakanagara.
Kerajaan Salakanagara yang berkuasa dari 130-362 M (232 tahun) yang beribu kota di Rajatapura, Pandeglang sekarang. Dinasti Warman ini merupakan penerus Kerajaan Salakanagara.
Purnawarman lahir tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna tahun 294 Saka (16 Maret 372 Masehi). Baca juga: Sejarah Stasiun Bekasi, Dibangun Hindia Belanda Tahun 1887 untuk Jalur Ekonomi Pulau Jawa
Di naskah Wangsakerta juga disebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada, Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah.
Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat masa silam. Selama masa pemerintahannya, Purnawarman telah menaklukan kerajaan-kerajaan lain di Jawa Barat, yang belum tunduk kepada kekuasaan Tarumanagara.
Semua musuh yang diserangnya, selalu dapat dikalahkan dan dia dijuluki Harimau Tarumanegara. Purnawarman menguasai berbagai ilmu dan siasat berperang, yang menjadikan dirinya, sebagai seorang raja yang perkasa dan dahsyat. Tak ada senjata musuh yang dapat melukainya karena mengenakan baju pelindung besi dari kepala sampai ke kaki.
(shf)