TEHERAN - Amerika Serikat telah memulai latihan militer skala besar selama beberapa hari di seluruh Timur Tengah. Latihan ini bertepatan dengan pengumuman Presiden Donald Trump tentang pengerahan angkatan laut tambahan, yang meningkatkan ketegangan dengan Iran.
Angkatan Udara Pusat AS (AFCENT) menyatakan pada hari Selasa bahwa “latihan kesiapan” dirancang untuk menunjukkan pengerahan dan pemeliharaan pesawat tempur secara cepat. Operasi ini diduga bertujuan memvalidasi prosedur penyebaran personel dan jet ke berbagai “lokasi darurat” dan mengintegrasikan komando dengan “negara mitra” yang tidak disebutkan namanya.
“Ini tentang menegakkan komitmen kami untuk mempertahankan personel Angkatan Udara yang siap tempur dan pelaksanaan disiplin yang diperlukan untuk menjaga ketersediaan kekuatan udara kapan dan di mana dibutuhkan,” kata komandan AFCENT Letnan Jenderal Derek France.
Latihan udara ini melengkapi peningkatan kekuatan angkatan laut yang besar. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengkonfirmasi kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln, yang didampingi oleh kapal perusak rudal, memasuki wilayah tersebut awal pekan ini.
Selain itu, AS telah memindahkan jet tempur F-15E Strike Eagle tambahan, baterai rudal Patriot, dan sistem pertahanan udara THAAD ke Timur Tengah.
“Ada armada indah lainnya yang berlayar dengan indah menuju Iran saat ini,” kata Trump dalam pidatonya pada hari Selasa, menambahkan ia berharap Teheran akan “membuat kesepakatan.” Sebelumnya ia menegaskan kekuatan angkatan laut di dekat Iran lebih besar daripada yang digunakan dalam operasi Venezuela.
Pergerakan militer ini menyusul ketegangan ekstrem selama beberapa minggu, di mana Trump dilaporkan hampir memerintahkan serangan untuk “menghukum” Teheran atas tindakan kerasnya terhadap protes anti-pemerintah yang penuh kekerasan.
Meskipun presiden AS belum membuat keputusan akhir, seorang pejabat Teluk yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Washington sedang mempertimbangkan serangan presisi terhadap pejabat dan komandan militer Iran.
Iran telah menanggapi dengan peringatan menantang terhadap “kesalahan perhitungan apa pun.” Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani menyatakan Teheran “sepenuhnya siap” untuk perang potensial apa pun, menekankan setiap serangan AS akan memicu respons “cepat dan komprehensif”. Hal ini mencerminkan peringatan sebelumnya dari para komandan militer Iran bahwa pasukan mereka "siap menembak."
Krisis ini berakar dari protes anti-pemerintah yang meluas di Iran yang awalnya dipicu kemerosotan ekonomi, yang menurut para pejabat telah menewaskan sekitar 3.000 orang. Teheran menyalahkan AS dan Israel karena menghasut dan memicu kerusuhan untuk membenarkan intervensi militer.
Baca juga: Memanas, Iran Nyatakan Wilayah Udara Hormuz Berbahaya, Perang Bisa Pecah (sya)