RIYADH - Sekutu terdekat Washington di Teluk—Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA)—telah secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah atau ruang udara mereka digunakan untuk aksi militer Amerika Serikat (AS) apa pun terhadap
Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman secara eksplisit mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam panggilan telepon pada hari Selasa: "Kerajaan tidak akan mengizinkan ruang udara atau wilayahnya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran."
Baca Juga: Negara NATO: Nasib Rezim Iran Tinggal Menghitung Hari Pengumuman serupa juga dibuat UEA, yang menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan dukungan logistik atau berfungsi sebagai tempat persiapan untuk aksi militer yang bermusuhan terhadap Teheran.
Penolakan tersebut mempersulit perencanaan militer AS, karena kedua negara tersebut menampung aset militer AS yang substansial.
Arab Saudi sendiri menampung lebih dari 2.300 tentara Amerika dan memiliki kemitraan keamanan jangka panjang dengan Washington. Sedangkan UEA menampung sekitar 5.000 personel militer AS di Pangkalan Udara Al Dhafra, tepat di luar Abu Dhabi.
Para analis menafsirkan langkah-langkah tersebut sebagai upaya untuk menghindari keterlibatan dalam perang yang lebih luas dan untuk berjaga-jaga terhadap pembalasan Iran. Para pakar militer yang dikutip oleh
The Wall Street Journal (
WSJ), Kamis (29/1/2026), mencatat bahwa meskipun keputusan Saudi dan Emirat meningkatkan kompleksitas dan biaya operasional, hal itu tidak menghalangi tindakan AS.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah, mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan skuadron pesawat tempur tambahan serta sistem pertahanan rudal ke wilayah tersebut. Kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke lainnya, USS Delbert D. Black, dilaporkan bergabung dengan pasukan tersebut pada hari Rabu, sehingga jumlah kapal perang di wilayah tanggung jawab Komando Pusat (CENTCOM) AS menjadi setidaknya sepuluh.
Trump menyatakan bahwa pengerahan "armada yang cantik" adalah demonstrasi kekuatan yang dimaksudkan untuk menekan Iran atas program nuklirnya dan tindakan kerasnya terhadap protes domestik, sambil tetap membuka pintu untuk diplomasi.
Awal pekan ini, AS memulai latihan militer skala besar selama beberapa hari di seluruh Timur Tengah. Operasi tersebut dilaporkan bertujuan untuk memvalidasi prosedur penyebaran personel dan jet tempur ke berbagai "lokasi darurat" dan mengintegrasikan komando dengan "negara mitra" yang tidak disebutkan namanya.
Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa negara mana pun yang memfasilitasi serangan AS akan dianggap bermusuhan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan kembali pada hari Rabu bahwa Teheran "200 persen siap untuk membela diri" dan akan memberikan respons yang "tepat, bukan proporsional" kemungkinan ditujukan pada pangkalan AS di wilayah tersebut.
(mas)