WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyatakan keadaan darurat nasional dan mengancam akan mengenakan tarif tinggi pada negara mana pun yang memasok minyak ke
Kuba. Trump secara dramatis meningkatkan tekanan pada Havana setelah operasi militer AS di Venezuela telah memutus akses negara kepulauan itu dari sumber energi terpentingnya.
Setelah menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro awal bulan ini, AS telah mengarahkan pandangannya ke Kuba, yang menurut Trump "siap untuk jatuh" berikutnya.
Baca Juga: Tak Mau Bernasib seperti Venezuela, Kuba Gelar Latihan Perang Dalam perintah eksekutif yang ditandatangani pada hari Kamis, Trump menyebut Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa" bagi keamanan nasional AS.
"Amerika Serikat tidak mentoleransi sama sekali tindakan sewenang-wenang rezim komunis Kuba," bunyi perintah tersebut, seperti dikutip dari
Russia Today, Jumat (30/1/2026).
“Saya menemukan bahwa kebijakan, praktik, dan tindakan Pemerintah Kuba secara langsung mengancam keselamatan, keamanan nasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat," lanjut perintah eksekutif Trump.
Perintah itu menetapkan mekanisme untuk memberlakukan tarif tambahan yang berpotensi berat pada impor dari negara mana pun yang terbukti secara langsung atau tidak langsung menjual atau memasok minyak ke Havana. Perintah tersebut memberikan wewenang luas kepada Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan AS untuk mengidentifikasi pelanggar dan merekomendasikan tingkat tarif kepada presiden.
Langkah Trump meformalkan dan mengintensifkan blokade energi de facto yang telah diperketat selama beberapa minggu. Operasi militer AS yang menculik Maduro pada 3 Januari lalu telah memutus sumber utama minyak mentah Kuba. Tekanan selanjutnya pada Meksiko, pemasok terakhir Havana, telah membuat negara warisan Fidel Castro itu menghadapi kekurangan yang parah.
Trump memprediksi pada hari Selasa bahwa pemerintah Kuba akan "segera jatuh", dengan membual bahwa pemutusan pasokan minyak dan pendapatan Venezuela telah mendorong Havana ke ambang kehancuran.
Menurut perusahaan data Kpler, Kuba hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 15 hingga 20 hari. Negara itu sudah mengalami pemadaman listrik harian, dan para analis memperingatkan akan terjadinya keruntuhan ekonomi dan krisis kemanusiaan tanpa pasokan ulang yang cepat.
Gedung Putih, dalam lembar fakta, menggambarkan deklarasi darurat nasional sebagai respons yang diperlukan terhadap aktivitas jahat, menuduh Kuba menampung “fasilitas intelijen sinyal luar negeri terbesar Rusia” dan menyediakan “lingkungan yang aman” bagi kelompok teroris.
Gedung Putih juga menuduh Havana menyebarkan pengaruh “komunis” di Belahan Barat.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel tetap menantang, menyatakan awal pekan ini: “Kekerasan zaman ini dan kebrutalan ancaman terhadap Kuba tidak akan menghalangi kami.”
Kuba telah berada di bawah embargo perdagangan AS sejak tahun 1960-an tetapi belum menghadapi kemungkinan blokade Angkatan Laut Amerika sejak tahun 1962, ketika Presiden John F. Kennedy menempatkannya di bawah "karantina" selama 13 hari untuk mencegah transfer rudal Soviet ke militer Kuba.
(mas)