JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartato buka suara terkait rilis lembaga pemeringkat dunia,
Moody’s Ratings yang menurunkan outlook
utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Menko Airlangga menjelaskan penurunan peringkat itu kemungkinan dilakukan karena sebelumnya investasi yang kerap dilakukan oleh Perusahaan BUMN mendapatkan sumber pembiayaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Ia menilai, ke depan dengan hadirnya Danantara seluruh investasi tidak lagi ditanggung kas negara, namun oleh Danantara.
Baca Juga: Moody's Sorot Danantara hingga Pangkas Kredit Indonesia jadi Negatif, Ini Kata Pemerintah "Outlook itu membutuhkan penjelasan. Tentu ada perbedaan di tahun ini karena investasi biasanya kan dibiayai oleh BUMN atau melalui APBN. Nah saat sekarang investasi dilakukan dengan Danantara," ujar
Menko Airlangga saat ditemui usai acara Pertemuan Tahun Industri Jasa Keuangan 2026 di Jakarta, Kamis malam (5/2/2026).
Airlangga mengaku telah menemui Danantara untuk segera menyiapkan jawaban yang akan disampaikan kepada lembaga rating tersebut. Ia menegaskan, Pemerintah tetap berkomitmen untuk mempertahankan rasio defisit APBN diangka 3 persen dari PDB.
"Jadi saya sudah bicara dengan Danantara dimana mereka juga akan mempersiapkan langkah-langkah untuk menjelaskan kepada rating agency," lanjutnya.
Baca Juga: Moody's Turunkan Outlook Utang RI Jadi Negatif, IHSG Dibuka Ambruk ke 7.919
Sebelumnya, Moody's Rating mempertahankan rating utang Indonesia Baa2 meski outlook dipangkas dari 'stabil' menjadi 'negatif'. Penurunan outlook tersebut didasarkakn pada kekhawatiran stabilitas kebijakan di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Perubahan outlook tersebut diumumkan menyusul aksi jual besar-besaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu. Hal tersebut terkait dengan kekhawatiran investor terhadap kelayakan investasi atas saham-saham Indonesia.
Moody's menambahkan, jika tren ini berlanjut, kondisi tersebut dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah terbangun sejak lama, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan.
(akr)