JAKARTA -
Nilai tukar rupiah memang tengah berada dalam tekanan berat hingga sempat menyentuh level psikologis Rp17.000 per
dolar Amerika Serikat (USD) pada awal pekan ini, Senin (9/3/2026). Namun jika menilik data lebih dalam, posisi
mata uang Garuda ternyata masih jauh lebih tangguh dibandingkan rekan-rekannya di kawasan Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, meskipun rupiah melemah, tingkat depresiasinya tercatat jauh lebih rendah daripada Won Korea Selatan (Korsel) dan Peso Filipina di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Tekanan terhadap rupiah dinilai masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah mata uang negara di kawasan Asia.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah
Data menunjukkan pelemahan rupiah sepanjang Maret tercatat sekitar 1,09%. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan won Korea Selatan dan peso Filipina yang masing-masing tertekan hingga 3,62% pada periode yang sama.
Tekanan terhadap mata uang negara-negara dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap lonjakan harga minyak akibat eskalasi geopolitik. Korea Selatan misalnya, selama ini dikenal memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, terutama minyak.
Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang meskipun juga merupakan importir minyak, masih memiliki penopang dari sektor domestik yang kuat.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000 per USD, Purbaya: Ekonomi Sedang Ekspansi
Indonesia juga dikenal sebagai pengekspor berbagai komoditas energi dan sumber daya alam seperti batu bara dan kelapa sawit. Kombinasi faktor ini membuat ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak global.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipicu oleh sentimen global dibandingkan masalah fundamental dalam negeri.
“Kalau melihat data terbaru justru menarik. Walaupun rupiah sempat mendekati 17.000 per USD, pelemahannya sepanjang bulan ini sebenarnya masih relatif moderat dibanding beberapa mata uang Asia lainnya yang juga tertekan oleh penguatan dolar global dan sentimen risk-off akibat ketegangan geopolitik serta lonjakan harga minyak,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini lebih merupakan dampak dari shock global yang dialami banyak negara. “Jadi tekanan yang terjadi saat ini lebih mencerminkan shock global yang dialami hampir semua emerging markets, bukan semata persoalan fundamental domestik Indonesia,” tambah David.
Kondisi Makro Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga
Di tengah tekanan terhadap rupiah, indikator makro ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif solid. Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya masih kuat.
Beberapa indikator utama menunjukkan stabilitas ekonomi domestik masih terjaga, antara lain inflasi tetap terkendali. Inflasi berada dalam kisaran target 2,5 ± 1% untuk periode 2026-2027. Kemudian soal pertumbuhan kredit perbankan. Pada Januari 2026 kredit perbankan masih tumbuh sekitar 9,96% secara tahunan.
Lalu soal pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2025 tercatat sekitar 5,11%, menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap ekspansif.
Dengan sejumlah indikator tersebut, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dipengaruhi dinamika eksternal seperti penguatan dolar AS, sentimen risk-off di pasar global, serta kenaikan harga energi dunia.
"Kondisi ini juga menegaskan bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik menghadapi gejolak global," pungkas David.
(akr)