JAKARTA - Penyanyi dangdut Ucie Sucita kembali menjajal peruntungan di dunia bisnis kuliner. Di tengah kesibukannya sebagai penyanyi, ia resmi membuka gerai baru bertajuk "Tahu Sumedang Si Neng Ucie Sucita" yang berlokasi di kawasan Prof. Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan.
Bagi Ucie, berbisnis bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia sempat merambah bidang kecantikan melalui jenama Sarita Beauty. Namun, saat pandemi COVID-19 melanda, jadwal manggung yang sepi serta lesunya penjualan produk kecantikan memaksanya untuk banting setir.
"Bisnis bukan hal baru bagi aku. Sebelumnya, bisnis kosmetikku sempat turun, jadi aku sempat jualan makanan cepat saji secara daring. Tadinya kalau tidak ada pandemi, aku mau buka restoran, tetapi belum kesampaian," ujar Ucie Sucita di sela-sela pembukaan gerainya, kemarin.
Pelantun lagu Dibuang Sayang ini mengaku tidak malu berjualan makanan dan justru bersyukur karena dagangannya laris manis. "Katering juga ada yang pesan meski hanya sedikit," imbuhnya.
Mengangkat Warisan Keluarga Pengalaman jatuh bangun tersebut memantapkan langkah Ucie untuk kembali berwirausaha. Kali ini, fokusnya bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan juga mengembangkan unit usaha pabrik tahu milik keluarganya. Sebagai perempuan kelahiran Sumedang, 28 Mei 1990, ia ingin memperkenalkan cita rasa tahu asli Sumedang kepada masyarakat luas.
"Aku ini USA, Urang Sumedang Asli. Kebetulan keluarga besar dari Ibu memang memiliki usaha dan pabrik tahu. Jadi, setelah berdiskusi dengan keluarga, kami sepakat untuk mengembangkan usaha ini agar lebih dekat dengan masyarakat, khususnya di Jakarta," jelas Ucie.
Menurutnya, bisnis ini sangat menjanjikan karena merupakan warisan turun-temurun selain usaha konveksi. Inspirasi ini juga muncul karena setiap kali pulang kampung, rekan-rekannya selalu menanyakan tahu sumedang. Saat ini, gerainya telah hadir di beberapa titik seperti Kuningan, Johar Baru, dan Blok M, dengan rencana ekspansi ke wilayah Tebet serta Senopati.
Tantangan dan Optimisme Meski telah berjalan sejak sebelum Ramadan, bisnis ini tetap memiliki tantangan tersendiri, mulai dari urusan sumber daya manusia hingga manajemen produk.
"Kendalanya lebih ke teknis, seperti sumber daya manusia. Kadang ada pegawai dari Sumedang yang baru bekerja dua minggu sudah minta pulang karena belum terbiasa dengan cuaca Jakarta. Selain itu, kami harus memastikan tahu selalu segar karena dikirim langsung dari pabrik tiap hari," ungkapnya.
Untuk menyiasati produk yang tidak terjual habis, Ucie memutar otak agar tidak ada bahan yang mubazir, salah satunya dengan mengolahnya menjadi menu tahu kriuk. Ia juga menekankan bahwa produknya tetap higienis dan menggunakan kemasan premium berupa boks serta bongsam bambu khas Sumedang.
Ucie mengaku optimistis usaha ini akan berkembang pesat. Ia bahkan menargetkan titik impas (break even point) dapat tercapai dalam waktu dekat. "Insyaallah rencananya setelah Lebaran ini sudah bisa balik modal, maksimal tiga bulan," katanya yakin.
Sebagai bentuk rasa syukur, Ucie memanfaatkan momen Ramadan ini dengan mengundang anak-anak yatim untuk berbuka puasa bersama. "Momennya pas di bulan Ramadan. Aku baru sebulan mulai jualan sebelum puasa, jadi ini waktu yang spesial untuk berbagi kebahagiaan dengan adik-adik tercinta," pungkasnya.
(unt)