JAKARTA - Profil
peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Evelyn N. Wang menarik untuk diulas. Saat ini ia sedang melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan teknologi yang memungkinkan
air minum dihasilkan langsung dari udara.
Data dari United Nations (UN) dan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 2,2 miliar penduduk dunia hingga kini belum mendapatkan akses yang memadai terhadap
air minum yang aman di rumah.
Baca juga: Cerita Sastia Prama Putri, Ilmuwan RI 21 Tahun di Jepang yang Bangga Berpaspor Indonesia Di sejumlah wilayah, khususnya daerah kering maupun terpencil, masyarakat sangat bergantung pada fasilitas infrastruktur seperti jaringan pipa, instalasi pengolahan air, hingga sumber air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Salah satu pendekatan yang kini banyak diteliti adalah atmospheric water harvesting, yaitu teknologi yang memanfaatkan uap air di atmosfer untuk diubah menjadi air cair.
Baca juga: Kisah Zhafif, Siswa Kharisma Bangsa Peraih Emas OSN Astronomi dan Bercita Jadi Peneliti Dengan teknologi tersebut, kelembapan udara dapat dikumpulkan dan diproses menjadi air yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Profil Evelyn N. Wang
Dikutip dari Times of India, Rabu (11/3/2026), Evelyn Ning Yi Wang merupakan insinyur mesin dan akademisi asal Amerika Serikat. Saat ini ia menjabat sebagai Ford Professor of Mechanical Engineering di MIT. Pada April 2025, ia juga dipercaya sebagai Vice President for Energy and Climate di kampus tersebut.
Bidang riset Wang meliputi perpindahan panas, sistem energi, serta rekayasa material. Dalam beberapa tahun terakhir, ia banyak meneliti teknologi atmospheric water harvesting yang berupaya menangkap kelembapan di udara dan mengubahnya menjadi air cair yang dapat disimpan serta digunakan.
Wang memimpin tim riset yang mengembangkan perangkat untuk mengekstraksi air dari udara dengan memanfaatkan panas matahari dan material khusus. Teknologi ini dirancang agar dapat beroperasi tanpa listrik sehingga berpotensi digunakan di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur air.
Pendidikan
Perjalanan akademik Evelyn N. Wang dimulai di Massachusetts Institute of Technology. Ia meraih gelar Bachelor of Science (BS) bidang Mechanical Engineering pada periode 1996 hingga 2000.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Wang melanjutkan studi ke Stanford University. Di kampus tersebut ia meraih Master of Science (MS) bidang Mechanical Engineering pada 2001.
Ia kemudian menyelesaikan Doctor of Philosophy (PhD) bidang Mechanical Engineering di universitas yang sama pada 2006. Penelitian doktoralnya berfokus pada perpindahan panas dan sistem termal, yang kemudian menjadi fondasi utama dalam karier akademiknya.
Karier Akademik dan Riset
Usai meraih gelar doktor, Wang bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di Bell Laboratories pada periode 2006 hingga 2007. Pengalaman tersebut memperkuat dasar penelitiannya di bidang teknik termal dan sistem energi.
Pada 2007, ia bergabung dengan Massachusetts Institute of Technology sebagai Assistant Professor di Departemen Teknik Mesin. Karier akademiknya terus berkembang hingga menjadi Associate Professor pada 2011 dan Full Professor pada 2017.
Ia juga pernah menjabat sebagai Associate Department Head for Operations di departemen yang sama pada 2017–2018. Selanjutnya, pada periode 2018 hingga 2022, Wang dipercaya memimpin Departemen Teknik Mesin MIT sebagai Department Head.
Pada 2023, Wang diangkat sebagai Direktur Advanced Research Projects Agency–Energy (ARPA-E), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang mendukung penelitian teknologi energi. Ia memegang posisi tersebut hingga Januari 2025 sebelum kembali ke MIT dan menjalankan peran kepemimpinan baru di bidang energi dan iklim.
Teknologi Mengubah Udara Menjadi Air Minum
Salah satu penelitian Wang yang menarik perhatian dunia adalah teknologi pengambilan air dari udara. Tim risetnya mempelajari bagaimana material berpori dapat menyerap uap air di udara, lalu melepaskannya sebagai air cair ketika dipanaskan.
Dalam sistem prototipe yang dikembangkan timnya, material berpori menangkap kelembapan udara saat suhu lebih rendah. Ketika terkena panas matahari, uap air tersebut dilepaskan dan kemudian mengembun menjadi air cair yang bisa dikumpulkan.
Perangkat ini dirancang menggunakan energi panas matahari, bukan listrik. Para peneliti meyakini bahwa di masa depan teknologi ini dapat membantu rumah tangga atau komunitas menghasilkan air minum dalam skala kecil secara mandiri, terutama di wilayah dengan infrastruktur air yang terbatas.
Penelitian Wang menjadi bagian dari upaya ilmiah global untuk mencari solusi baru atas krisis air dunia. Meski teknologi atmospheric water harvesting masih terus dikembangkan, para peneliti optimistis inovasi ini berpotensi menjadi salah satu alternatif penting untuk memenuhi kebutuhan air bersih di masa depan.
(nnz)