SINGAPURA - Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, memangkas pasokan minyak mentah ke pembeli Asia untuk April di tengah gangguan jalur distribusi global akibat konflik di Selat Hormuz. Kebijakan ini memperketat suplai bagi kilang di kawasan yang sangat bergantung pada impor energi.
"Saudi Aramco terus memastikan pasokan energi yang andal dengan memanfaatkan rute ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap kondisi regional yang berkembang," demikian pernyataan resmi perusahaan dikutip dari Reuters, Selasa (24/3/2026).
Baca Juga: Iran Tak Mungkin Tunduk pada Ancaman Trump di Selat Hormuz Dua sumber industri menyebutkan, pengurangan pasokan dilakukan untuk bulan kedua berturut-turut, dengan distribusi minyak Arab Light hanya dialokasikan kepada pelanggan tetap. Kondisi ini membuat pasokan ke kilang-kilang Asia tetap terbatas dan berpotensi menekan produksi bahan bakar olahan.
Gangguan terjadi seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang berdampak pada jalur strategis Selat Hormuz. Jalur tersebut selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak global, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi stabilitas pasokan.
Sebagai langkah mitigasi, Aramco mengalihkan ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Perusahaan menegaskan jadwal pengiriman telah disesuaikan dengan kondisi terbaru, sembari tetap menjaga komunikasi dengan pelanggan untuk memastikan keberlanjutan pasokan.
Baca Juga: Setiap Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak, APBN Terancam Jebol Sampai Rp7 Triliun Data perusahaan analitik menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi turun signifikan pada Maret menjadi sekitar 4,355 juta barel per hari, dari sebelumnya 7,108 juta barel per hari pada Februari. Meski demikian, volume ekspor melalui Yanbu justru diproyeksikan meningkat untuk menutup gangguan distribusi.
Di sisi lain, aktivitas pengiriman sempat terganggu setelah insiden drone di kilang SAMREF di Yanbu pada pertengahan Maret. Kilang terbesar China, Sinopec, dijadwalkan tetap memuat jutaan barel minyak dari pelabuhan tersebut, menandakan tingginya ketergantungan Asia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
(nng)