JAKARTA - Hubungan Kerajaan
Arab Saudi dengan Amerika Serikat (AS) relatif mulus dalam beberapa tahun terakhir, di mana Riyadh dianggap sebagai salah satu sekutu penting Washington di Timur Tengah. Namun, negara Islam tersebut sejatinya pernah menorehkan sejarah dengan berani mencekik ekonomi AS melalui embargo minyak.
Itu dilakukan oleh raja pemberani, Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud, pada tahun 1973. Langkah embargo minyak itu diambil sebagai respons terhadap dukungan AS terhadap Israel selama Perang Yom Kippur.
Baca Juga: 4 Skenario Bila Pasukan Darat AS Serbu Iran: Bisa Duduki Situs Nukir, Juga Bisa Dibantai IRGC Perang Yom Kippur dimulai pada 6 Oktober 1973, ketika Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel yang pada saat itu sedang merayakan hari libur Yom Kippur. Konflik tersebut merupakan usaha negara-negara Arab untuk merebut kembali wilayah yang hilang selama Perang Enam Hari pada 1967.
Embargo Minyak Arab Saudi Mencekik Ekonomi AS
Sebagai reaksi terhadap dukungan Amerika Serikat kepada Israel, Raja Faisal memimpin keputusan untuk melaksanakan embargo minyak. Pada 17 Oktober 1973, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang pada waktu itu didominasi oleh negara-negara Arab, memutuskan untuk menurunkan produksi minyak dan menghentikan ekspor minyak ke negara-negara yang dianggap mendukung Israel, termasuk Amerika Serikat.
Menurut Daniel Yergin dalam bukunya
The Prize: The Epic Quest for Oil, Money & Power, “Embargo minyak 1973 adalah salah satu momen yang mengubah secara radikal lanskap energi global. Dalam waktu singkat, negara-negara penghasil minyak Arab memanfaatkan posisi mereka untuk memengaruhi kebijakan luar negeri dan ekonomi negara-negara Barat.”
Langkah ini memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap ekonomi global. Selama periode embargo, Arab Saudi mengurangi produksi minyak dari 10,5 juta barel per hari menjadi sekitar 5,5 juta barel per hari, dan harga minyak dunia melonjak dari sekitar USD3 per barel menjadi USD12 per barel dalam waktu singkat. Ini menunjukkan peningkatan harga minyak sebesar 300%.
Sebagai perbandingan, perang Iran melawan AS dan Israel sempat membuat harga minyak tembus USD100 per barel karena Teheran menutup sebagian Selat Hormuz.
Embargo minyak yang dimotori Raja Faisal kala itu menyebabkan krisis energi global yang mempengaruhi banyak negara, dengan Amerika Serikat menjadi salah satu yang paling terdampak. Krisis ini mengakibatkan lonjakan harga bahan bakar, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar, dan inflasi tinggi.
Menurut Bassam Tibi dalam
The New Middle East: What Everyone Needs to Know, “Krisis energi ini menyebabkan dampak ekonomi yang sangat besar, termasuk inflasi tinggi dan penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat.”
Pada puncaknya, inflasi tahunan di Amerika Serikat mencapai 12%, dan pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yang tajam. Dalam jangka panjang, embargo ini memaksa Amerika Serikat untuk mengeksplorasi sumber energi alternatif dan memperkuat kebijakan energi nasional. Ini juga mempercepat diversifikasi ekonomi dan pencarian solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Arab Saudi Kaya Raya dalam Sekejap
Bagi Arab Saudi, embargo minyak kala itu merupakan berkah ekonomi. Pendapatan negara dari ekspor minyak melonjak secara drastis. Pada tahun 1973, pendapatan minyak Arab Saudi meningkat dari USD2,6 miliar pada tahun 1972 menjadi USD8,3 miliar.
Peningkatan harga minyak memberikan keuntungan besar dan memungkinkan Arab Saudi untuk membangun cadangan devisa yang signifikan, serta melaksanakan berbagai proyek pembangunan infrastruktur dan modernisasi ekonomi.
David Simon mencatat dalam
Oil, Energy, and the Middle East, “Arab Saudi mengalami lonjakan pendapatan minyak yang luar biasa, yang memungkinkan mereka untuk berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan nasional dan modernisasi.”
Durasi Embargo Minyak oleh Arab Saudi Cs
Embargo minyak oleh Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya dimulai pada 17 Oktober 1973, dan berlangsung hingga Maret 1974.
Pada Maret 1974, embargo mulai dicabut secara bertahap, meskipun beberapa negara Arab terus memberlakukan pembatasan produksi sebagai alat politik hingga tahun 1974.
Sebagai respons terhadap embargo minyak dan krisis energi yang menyusul, Amerika Serikat mengambil beberapa langkah strategis.
Pertama, melakukan diversifikasi sumber energi, yakni mulai mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada minyak Timur Tengah. Mereka meningkatkan investasi dalam energi alternatif dan pengembangan sumber energi domestik, seperti minyak shale dan gas alam.
Kedua, meningkatkan cadangan minyak strategi. Pada tahun 1975, Amerika Serikat mendirikan Strategic Petroleum Reserve (SPR), sebuah cadangan minyak strategis yang dirancang untuk melindungi negara dari krisis energi di masa depan.
Ketiga, memperkenalkan kebijakan energi yang lebih ketat. Ini termasuk efisiensi energi dan pengaturan harga bahan bakar untuk mengurangi dampak fluktuasi harga minyak global.
Keempat, gencarkan diplomasi. Amerika Serikat meningkatkan upaya diplomasi untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara penghasil minyak Arab dan untuk menstabilkan pasar energi global.
Lambat laun, krisis minyak itu berakhir dan hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi mulai membaik secara bertahap.
Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani sejumlah perjanjian keamanan dan ekonomi yang saling menguntungkan. Salah satu contoh penting adalah perjanjian penjualan senjata, di mana Amerika Serikat mulai menyediakan peralatan militer canggih kepada Arab Saudi.
Kedua negara kemudian mulai bekerja sama lebih erat dalam sektor energi. Arab Saudi tetap menjadi salah satu penyedia minyak terbesar bagi Amerika Serikat, dan kerja sama ini membantu menstabilkan pasar energi global.
Kedua negara juga memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas di Timur Tengah. Mereka kembali akur, menjalin kerja sama dalam berbagai isu regional, seperti keamanan dan penanganan terorisme, membantu memperkuat hubungan bilateral.
Nasib Tragis Raja Faisal
Meski tercatat sebagai raja pemberani, Raja Faisal meninggal dengan cara tragis. Dia meninggal pada 25 Maret 1975 akibat ditembak oleh keponakannya sendiri; Faisal bin Musaid al-Saud, dari jarak dekat di istana Riyadh.
Pelaku kemudian ditangkap, diadili dan eksekusi mati pada tahun yang sama.
Motif pembunuhan terhadap Raja Faisal hingga hari ini tidak pernah benar-benar dipastikan secara tunggal. Namun, para sejarawan dan laporan resmi umumnya mengerucut pada tiga penjelasan utama—dengan satu yang paling kuat.
Pertama, motif dendam pribadi. Ini merupakan versi resmi pemerintah Arab Saudi dan menjadi penjelasan yang paling luas diterima.
Faisal bin Musaid diduga menyimpan dendam terkait kematian kakaknya, Khalid bin Musaid al-Saud yang tewas pada 1965 saat terlibat dalam protes terhadap kebijakan modernisasi Arab Saudi, termasuk kontroversi seputar televisi yang didukung oleh Raja Faisal.
Kedua, faktor psikologis dan perilaku. Pelaku diketahui pernah tinggal dan belajar di Amerika Serikat. Pelaku memiliki perilaku tidak stabil, dan diduga mengalami gangguan psikologis.
Namun, tidak ada diagnosis resmi yang benar-benar mengonfirmasi bahwa pelaku mengalami gangguan mental berat.
Ketiga, spekulasi politik dan konspirasi. Karena posisi Raja Faisal sangat berpengaruh—terutama setelah embargo minyak tahun 1973, muncul berbagai teori. Seperti dugaan keterlibatan intelijen asing, motif pembunuhan terkait sikap anti-Barat dan anti-Zionisme, dan motif ketegangan geopolitik pasca-embargo minyak.
Hanya saka, tidak ada bukti kuat atau dokumen resmi yang membenarkan keterlibatan pihak luar. Sebagian besar sejarawan menganggap ini sebagai spekulasi politik.
(mas)