JAKARTA - Gelombang ketegangan geopolitik global yang terus memanas kini mengirimkan sinyal bahaya ke dalam negeri: harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terancam melonjak.
Lonjakan harga energi ini diproyeksikan akan memberikan tekanan hebat terhadap daya beli masyarakat sipil dan mencekik biaya operasional sektor transportasi di seluruh penjuru Nusantara.
Davigo—salah satu produsen motor listrik (Electric Vehicle/EV) lokal—turun gunung.
Mereka menegaskan bahwa krisis global ini bukan sekadar ancaman, tapi justru momentum krusial yang memaksa Indonesia untuk segera mempercepat adopsi kendaraan listrik sebagai solusi jangka panjang yang kebal dari fluktuasi minyak dunia.
“Ketika harga BBM sangat dipengaruhi dinamika global, maka masyarakat Indonesia berada dalam posisi rentan. Motor listrik menjadi solusi untuk memutus ketergantungan tersebut," tegas Aprizal, GM Davigo.
Kendaraan listrik menawarkan stabilitas finansial yang tak mampu diimbangi oleh kendaraan berbahan bakar fosil.
Menurut Davigo, biaya pengisian daya listrik untuk penggunaan harian hanya berkisar di angka Rp6.000. Angka penghematan absolut ini menjadi tameng rasional di tengah ketidakpastian harga BBM, terutama bagi segmen masyarakat produktif seperti pengemudi ojek online (ojol) dan kurir logistik yang periuk nasinya sangat sensitif terhadap perubahan biaya bahan bakar sekecil apa pun.
Sebagai jenama lokal, Davigo mengaku berhasil menembus Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen pada beberapa produk andalannya.
Untuk menepis keraguan masyarakat akan performa EV, Davigo menanamkan spesifikasi buas pada unitnya.
Dapur pacu motor ini didukung oleh dinamo bertenaga 2.000 watt yang dikawinkan dengan teknologi baterai litium tingkat lanjut (varian NMC maupun LFP).
Perpaduan mekanis ini menghasilkan jarak tempuh lebih dari 160 kilometer hanya dalam satu kali pengisian daya. Ketangguhan daya tahan ini bukan sekadar klaim di atas kertas; unit Davigo telah terbukti secara konkret mampu menyelesaikan perjalanan lintas provinsi dari Jakarta menuju Bandung
tanpa perlu melakukan pengisian daya (cas) di tengah jalan.
Menyadari hambatan harga beli di awal, Davigo turut meluncurkan terobosan finansial melalui skema kepemilikan fleksibel program sewa-milik (rent-to-own).
Strategi pasar ini dirancang khusus agar masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi dapat membawa pulang motor listrik dengan tanggungan biaya harian yang sangat terjangkau.
Davigo juga mendorong pemerintah segera merumuskan kebijakan akseleratif di tengah situasi global yang tidak menentu ini.
Hal tersebut mencakup pemberian kepastian insentif energi dan dukungan penuh terhadap industri perakitan lokal.
"Kondisi saat ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. Dengan dukungan yang tepat, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap energi impor," pungkas Aprizal.
(dan)