floating-5 Alasan Trump Memilih...
5 Alasan Trump Memilih Gencatan Senjata, dari Dampak Ekonomi hingga Ancaman Pemakzulan
5 Alasan Trump Memilih...
5 Alasan Trump Memilih Gencatan Senjata, dari Dampak Ekonomi hingga Ancaman Pemakzulan
Rabu, 08 April 2026 - 12:12 WIB
WASHINGTON - Presiden Donald Trump mengumumkan penangguhan pemboman infrastruktur energi Iran selama dua minggu, menyetujui "gencatan senjata dua sisi" yang bergantung pada persetujuan Teheran untuk pembukaan Selat Hormuz secara "lengkap" dan "segera".

Presiden AS mengatakan proposal 10 poin Iran yang disampaikan melalui Pakistan menawarkan "dasar yang layak untuk bernegosiasi." Namun, Trump memperingatkan bahwa proposal tersebut tidak cukup baik dalam bentuknya saat ini – dan mengatakan ia akan memerintahkan serangan udara baru yang menghancurkan jika tidak ada kesepakatan akhir yang tercapai sebelum batas waktu baru.

Teheran mengatakan langkah tersebut merupakan "kekalahan bersejarah dan telak" bagi AS, mengklaim Washington terpaksa menerima rencana 10 poin Teheran sebagai dasar pembicaraan.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah mengumumkan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat akan dimulai pada hari Jumat, 10 April, di Islamabad, dengan alokasi waktu dua minggu yang dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama.

5 Alasan Trump Memilih Gencatan Senjata, dari Dampak Ekonomi hingga Ancaman Pemakzulan

1. Dampak Ekonomi yang Kian Mengerikan

Alan Eyre, peneliti diplomatik terkemuka di Middle East Institute yang berbasis di Washington DC, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Presiden Trump kemungkinan besar "sangat ketakutan" atas dampak ekonomi perang dan kendali Iran atas Selat Hormuz dan menyadari bahwa ia harus "menyatakan kemenangan dan menghentikan perang".

"Itulah mengapa sangat melegakan bahwa ia mundur dari ancaman dahsyatnya untuk mengakhiri peradaban dan membawa Iran kembali ke zaman batu," kata Eyre.

"Kita beruntung dia tidak mewujudkannya. Jadi skenario terbaiknya adalah dia menyatakan kemenangan dan kita mencoba memperbaiki kekacauan yang ditinggalkannya," katanya.

Eyre juga mengatakan bahwa gencatan senjata akan membutuhkan waktu untuk berlaku dan serangan, khususnya oleh Israel terhadap Lebanon, mungkin akan berlanjut dalam beberapa jam ke depan. Ia mengatakan Israel memiliki sejarah melanggar gencatan senjata, tetapi ia tidak memiliki "kekhawatiran yang berlebihan" kecuali serangan terhadap Lebanon berlanjut hingga beberapa hari mendatang.

“Saya pikir Israel melihat tindakan mereka di Lebanon pada dasarnya berbeda dengan apa yang mereka lakukan di Iran,” kata Eyre, menambahkan bahwa Israel memiliki “tujuan strategis mereka sendiri yang belum mereka penuhi” di Lebanon.

“Jadi saya pikir karena Presiden Trump telah meminta Israel untuk berhenti, dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk berhenti, mereka akan berhenti sekarang. Tetapi mereka akan selalu berpikir, bagaimana kita menyelesaikan pekerjaan ini,” katanya.

2. Ancaman Pemakzulan

Anggota Kongres AS Alexandria Ocasio-Cortez telah memperbarui seruannya agar Trump dimakzulkan, mengatakan bahwa pengumuman presiden Republikan tentang gencatan senjata sementara “tidak mengubah apa pun.”

“Presiden telah mengancam genosida terhadap rakyat Iran, dan terus memanfaatkan ancaman itu,” kata politisi Demokrat itu dalam sebuah unggahan di X.

“Kita tidak bisa lagi mempertaruhkan dunia maupun kesejahteraan bangsa kita,” tambah Ocasio-Cortez.

“Baik oleh Kabinetnya maupun Kongres, Presiden harus dicopot dari jabatannya. Kita sedang bermain di ambang kehancuran.”

Puluhan anggota parlemen Demokrat AS sebelumnya telah menyerukan agar Trump dicopot dari jabatannya karena ancamannya terhadap Iran, dan beberapa di antaranya kini menyatakan bahwa posisi mereka tetap tidak berubah setelah pengumuman gencatan senjata.

3. Tidak Ada Pilihan Lain

Trump terpaksa menerima kesepakatan gencatan senjata dengan Iran karena ia “tidak memiliki pilihan yang baik” di meja perundingan, kata seorang pakar kebijakan luar negeri tentang Iran.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Trita Parsi dari Quincy Institute mengatakan bahwa perang AS-Israel yang lebih luas dengan Iran akan “menghancurkan kepresidenan Trump”.

“Dia sesumbar tentang langkah-langkah eskalasi, tetapi semua orang di kawasan itu tahu bahwa jika Anda menyerang sumber daya energi dan pembangkit listrik Iran, Iran akan membalas terhadap negara-negara GCC, dan kita akan mengalami krisis energi yang jauh lebih buruk daripada sekarang,” kata Parsi.

“Dia perlu keluar dari situasi ini. Dia membuat ancaman tadi pagi untuk memberi kesan bahwa kesepakatan yang akan dia capai malam ini dilakukan sesuai persyaratannya,” kata Parsi.

“Tetapi ketika Anda benar-benar melihatnya, tampaknya tidak demikian. Bahkan pernyataannya sendiri mengatakan bahwa negosiasi akan didasarkan pada rencana 10 poin Iran, yang merupakan rencana yang jauh lebih masuk akal.”

4. Membuka Selat Hormuz

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memuji gencatan senjata sebagai kemenangan bagi AS yang menurutnya telah "diwujudkan" oleh Trump dan militer Amerika.

Sejak awal, katanya, Trump memperkirakan perang akan berlangsung selama empat hingga enam minggu dan dalam 38 hari, AS telah mencapai dan melampaui tujuan militer inti Washington.

“Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal, memungkinkan Presiden Trump dan tim untuk terlibat dalam negosiasi sulit yang kini telah menciptakan peluang untuk solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang,” tulisnya.

“Selain itu, Presiden Trump berhasil membuka kembali Selat Hormuz,” katanya.

Pernyataan Leavitt muncul setelah Dewan Keamanan Nasional Iran mengatakan bahwa mereka menyetujui gencatan senjata dua minggu karena “hampir semua tujuan perang telah tercapai” dan bahwa mereka memutuskan untuk mengadakan pembicaraan di Islamabad agar “kemenangan di medan perang” mereka dapat “dikonsolidasikan dalam negosiasi politik”.

5. Menurunkan Harga Minyak

Pasar telah pulih dan harga minyak telah turun, kata Alex Holmes dari Economist Intelligence Unit kepada Al Jazeera, tetapi tidak dapat terlalu yakin apakah gencatan senjata yang diumumkan akan bertahan.

“Jadi yang penting untuk diperhatikan adalah tanda-tanda yang datang dari Israel, Iran, dan pihak lain mengenai apakah gencatan senjata ini akan bertahan,” kata Holmes.

“Akan ada kesenjangan besar yang harus dijembatani dalam negosiasi sehingga pasar masih dalam mode menunggu dan melihat,” katanya.

“Dan meskipun telah bergerak, jelas harga minyak masih jauh lebih tinggi daripada akhir Februari,” katanya.

Menurut kantor berita Reuters, harga minyak mentah berjangka AS turun sekitar 16 persen menjadi USD94,59 per barel, sementara harga Brent berjangka juga turun 15 persen menjadi USD92,35 per barel setelah berita tentang gencatan senjata.

Di Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 5 persen sementara indeks Kospi Korea Selatan naik 6 persen, memicu penghentian perdagangan.
(ahm)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Jenazah Ayatollah Khamenei...
Jenazah Ayatollah Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli
PM Pakistan: Perjanjian...
PM Pakistan: Perjanjian Damai Iran dan AS Terwujud dalam 24 Jam Mendatang
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
Pasukan Elite AS Siapkan...
Pasukan Elite AS Siapkan Skenario Caplok Uranium Iran, tapi Kenapa Tidak Dilaksanakan?
AS Klaim Tembak Jatuh...
AS Klaim Tembak Jatuh Banyak Drone Iran