BUDAPEST - Perdana Menteri (PM) Viktor Orban, yang telah memerintah
Hongaria selama 16 tahun, telah mengakui kekalahan dari kubu konservatif pimpinan Peter Magyar dalam pemilu parlemen.
Dengan penghitungan suara di hampir 67 persen tempat pemungutan suara (TPS), Partai Tisza pimpinan Magyar diperkirakan telah memperoleh 137 kursi, atau lebih dari dua pertiga dari total 199 kursi parlemen, menurut hasil pemilu resmi.
Baca Juga: Negara NATO Ini Tiba-tiba Nyatakan Ukraina sebagai Musuh, Ini Penyebabnya Pemungutan suara yang berlangsung pada hari Minggu dipantau ketat di seluruh Eropa dan di Amerika Serikat, di mana Presiden AS Donald Trump mendukung Orban, yang menyebut dirinya sebagai "duri" di sisi Uni Eropa dan pembela "demokrasi illiberal" yang juga dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Hasil pemilu, meskipun belum final, jelas dan mudah dipahami; bagi kami, ini menyakitkan tetapi tidak ambigu," kata Orban (62) kepada wartawan.
"Kami belum dipercayakan dengan tanggung jawab dan kesempatan untuk memerintah. Saya mengucapkan selamat kepada partai pemenang," katanya lagi, seperti dikutip
AFP, Senin (13/4/2026).
Magyar (45), seorang pendatang baru di dunia politik dan mantan orang dalam pemerintahan, mengunggah di media sosial: "Orban baru saja menelepon untuk mengucapkan selamat atas kemenangan kami."
Tingkat partisipasi pemilu mencapai rekor 77,8 persen pada pukul 18.30 waktu setempat (16.30 GMT).
"Penuh Harapan"
"Saya sangat gembira. Saya datang ke acara ini dengan penuh harapan... Saya optimistis tentang perubahan," kata Orsolya Rozgonyi, seorang manajer SDM berusia 28 tahun, kepada
AFP di tengah pendukung Partai Tisza yang berkumpul di Budapest dalam suasana meriah.
Suasana lebih tenang di antara ratusan pendukung Partau Fidesz pimpinan Orban yang berkumpul di dekat pusat pers.
Orban, yang berupaya meraih masa jabatan kelima berturut-turut, telah mengubah negaranya menjadi model "demokrasi illiberal", secara terbuka berselisih dengan Brussel mengenai masalah supremasi hukum, serta dukungan untuk Ukraina yang dilanda perang.
Magyar muncul di panggung politik hanya dua tahun lalu, berjanji untuk memerangi korupsi dan menawarkan layanan publik yang lebih baik, mengumpulkan dukungan di tengah stagnasi ekonomi, meskipun sistem pemilihan condong mendukung Partai Fidesz.
Kedua kubu menuduh adanya campur tangan asing selama kampanye di negara Eropa tengah berpenduduk 9,5 juta jiwa ini.
Wakil Presiden AS JD Vance mengunjungi Hongaria minggu ini untuk mendukung Orban, menyerang dugaan campur tangan "birokrat" Brussels di Hongaria, sementara Trump berjanji akan membawa "kekuatan ekonomi" AS ke Hongaria jika partainya Orban meraih kemenangan.
"Tidak Ada Pelanggaran"
Setelah memberikan suara, Orban mengulangi peringatan tentang "krisis besar" yang menanti Eropa.
"Untungnya kita memiliki banyak teman di dunia. Dari Amerika hingga China hingga Rusia dan dunia Turki," katanya.
Orban telah memfokuskan diri menjadikan Ukraina sebagai topik utama kampanyenya, menggambarkan negara tetangga tersebut, yang sedang melawan invasi Rusia, sebagai negara yang "bermusuhan" dengan Hongaria.
Dia juga berjanji untuk melanjutkan tindakan keras terhadap "organisasi masyarakat sipil palsu, jurnalis, hakim (dan) politisi yang dibeli".
Maria Toth, seorang ibu rumah tangga berusia 31 tahun dengan dua anak, mengatakan kepada
AFP di sebuah tempat pemungutan suara di Budapest: "Sangat penting bagi kami agar Viktor Orban tetap berkuasa".
"Saya merasa Hongaria dikepung dari begitu banyak arah dan kekuatan besar seperti Brussels mencoba mendikte bagaimana kita hidup," tambahnya.
Kepala staf Orban, Gergley Gulyas, mengatakan sebelumnya pada hari Minggu bahwa dia tidak melihat, untuk saat ini, "pelanggaran apa pun yang akan mempertanyakan hasil akhir".
Setelah pemungutan suara, Magyar meminta para pemilih untuk melaporkan dugaan pembelian suara, intimidasi, atau pelanggaran lainnya, sambil mendesak agar tetap tenang.
(mas)