JAKARTA - Lorong gelap rumah sakit tua itu terasa hidup dari balik layar. Kamera bergetar, napas memburu, dan rasa takut hadir tanpa jeda. Film “402: Rumah Sakit Angker Korea” datang membawa sensasi horor berbeda. Bukan sekadar cerita seram, tetapi penonton seolah larut dalam petualangan mencekam yang kameranya direkam langsung oleh korban.
Film ini merupakan adaptasi resmi dari film Korea “Gonjiam: Haunted Asylum” tahun 2018. Karya asli itu dikenal luas sebagai salah satu horor paling mencekam dunia. Kisahnya mengikuti empat YouTuber yang mengejar tiga juta penonton siaran langsung. Mereka nekat menjelajah rumah sakit angker di Korea Selatan. Namun, ambisi tersebut justru berbuah teror yang sulit dijelaskan logika. Kamera terus menyala saat kewarasan mulai runtuh perlahan.
Berbeda dari horor kebanyakan, film ini memakai konsep found footage. Artinya, seluruh adegan direkam langsung oleh para karakter di cerita. Teknik ini membuat teror terasa dekat, mentah, tak terprediksi dan tentunya: tanpa jeda!
Baca Juga : Sinopsis Ikatan Darah, Film Besutan Iko Uwais yang Tayang 30 April 2026 Dengan pendekatan visual mentah dan cerita relevan, “402: Rumah Sakit Angker Korea” menjanjikan teror yang lebih dekat. Penonton tidak hanya melihat, tetapi seolah ikut terjebak di dalamnya.
Bagi sang sutradara, Anggy Umbara, film ini merupakan tantangan teknis paling rumit yang pernah dikerjakannya. Ia menggunakan total 28 kamera dalam proses syuting. “Para pemain memegang kamera sendiri, jadi semuanya terasa nyata,” ujarnya dalam peluncuran official teaser trailer dan teaser poster film ini di Jakarta, Kamis (16/4/2026). Menurut dia, pendekatan ini jarang diterapkan di Indonesia.
Anggy juga menyebut eksplorasi teknis dan storytelling menjadi inti kekuatan film produksi Umbara Brothers Film, MD Pictures, dan Pichouse Films yang dijadwalkan tayang pada 9 Juli 2026 di bioskop Indonesia ini. Sebagian dari 28 kamera yang digunakan sekaligus ditempel di tubuh pemain, sisanya dipegang langsung saat berakting.
Baca Juga : Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo Bintangi "Descendants of the Sun" versi Indonesia Saputra Kori yang berperan sebagai Bara harus mengoperasikan tiga kamera sekaligus. Ia mengaku kesulitan menjaga emosi tetap stabil. “Saya harus tetap akting sambil memastikan kamera berjalan,” katanya.
Elang El Gibran menilai konsep film ini sebagai pengalaman langka. Ia tertarik pada kompleksitas produksi yang jarang ditemui. “Saya memang suka tantangan seperti ini,” ujar pemeran Adit ini.
Associate Producer Umbara Brothers, Indah Desriana, melihat konsep found footage memberi sensasi ketakutan yang lebih dekat. “Kami yakin ini akan menjadi karya berbeda,” ujarnya.
Ketegangan film mulai terasa sejak teaser trailer dirilis. Salah satu adegan paling mencuri perhatian menampilkan tangan salah satu Youtuber masuk ke peti mati. Momen itu menjadi simbol keberanian sekaligus awal petaka.
Diandra Agatha sebagai Arum tampil ambisius dan nekat demi konten. Ia menggambarkan karakternya sebagai pekerja keras tanpa batas. “Arum akan melakukan apa saja demi tujuan,” ujarnya.
Aktor Arbani Yasiz yang memerankan tokoh Juna tampil dengan karakter lebih gelap. Ia menyebut pengalaman syuting terasa jauh lebih intens. “Penonton akan melihat sisi baru yang penuh misteri,” ujarnya.
Lea Ciarachel memerankan Yuri, karakter yang lebih tertutup dan penuh keraguan. Ia menggambarkan sosoknya sebagai orang yang sebenarnya takut. “Sejak awal Yuri merasa tidak nyaman berada di lokasi,” kata Lea.
Aylena Fusil yang debut sebagai Tyas menghadirkan sudut pandang rasional. Karakternya digambarkan skeptis terhadap hal mistis. “Tyas ingin membuktikan sendiri kebenaran di lokasi,” katanya.
Penulis skenario sekaligus produser kreatif, Lele Laila, menambahkan, cerita diperkuat agar relevan dengan penonton Indonesia. Lele Laila juga menyebut proses produksi memakan waktu dua tahun. Ia ikut langsung dalam syuting di Korea Selatan.
CEO dan Founder MD Entertainment, Manoj Punjabi, menegaskan ambisi besar proyek yang disebutnya memakan biaya tinggi ini. Ia menyebut horor masih mendominasi sekitar 50 persen minat penonton Indonesia. “Kami ingin terus menaikkan standar produksi horor Indonesia dengan konsep baru,” katanya.
(wur)