Program ketahanan pangan yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mendapat respons positif dari mantan warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan (lapas) di Indonesia. Selain memperkuat ketahanan pangan nasional, program ini juga memberikan manfaat nyata berupa keterampilan dan penghasilan bagi warga binaan.
Di bawah kepemimpinan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Jenderal (Purn) Agus Andrianto, Pulau Nusakambangan kini berkembang pesat menjadi sentra ketahanan pangan nasional. Program ini merupakan bagian dari akselerasi prioritas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan.
Sairan, salah satu mantan warga binaan Nusakambangan yang kini bekerja di sektor produksi, mengungkapkan bahwa program ini memberikan harapan baru dalam hidupnya.
“Mungkin susah untuk mendapatkan pekerjaan di luar sana karena saya mantan narapidana. Tapi saya adalah tulang punggung keluarga, jadi harus tetap memenuhi kebutuhan hidup. Alhamdulillah, upah di sini cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan keluarga, sehingga saya memutuskan kembali bekerja di sini,” ujarnya dikutip dari video yang dikirimkan, Sabtu (18/04/2026)
Diketahui, terdapat tiga titik utama menjadi pusat pengembangan program ini, yakni Pulau Nusakambangan, Lapas Terbuka Kendal, dan Lapas Kelas I Tangerang.
Di Pulau Nusakambangan, program ketahanan pangan dilaksanakan secara masif dan terintegrasi. Pada sektor perikanan, lahan dimanfaatkan untuk budidaya kolam produktif yang mencakup 400 kolam sidat, sistem bioflok, serta tambak dengan sekitar 9 juta benih udang.
Di sektor peternakan, pengembangan dilakukan secara berkelanjutan dengan populasi mencapai 5.000 ayam petelur, 5.000 ayam KUB, 57 ekor sapi, dan 4 ekor kerbau.
Sementara itu, di sektor pertanian dan perkebunan, warga binaan mengelola berbagai komoditas unggulan seperti padi lokal, sayur-mayur, buah-buahan, hingga pengolahan kelapa secara hilirisasi.
Pada sektor industri, pelatihan kerja terus diperkuat melalui balai latihan kerja, termasuk inovasi pengolahan limbah fly ash dan bottom ash menjadi produk beton bernilai guna.
Pengembangan serupa juga dilakukan di Lapas Terbuka Kendal yang memanfaatkan lahan seluas 68 hektare. Program ketahanan pangan di lokasi ini dijalankan langsung oleh warga binaan melalui berbagai sektor.
Pada sektor pertanian, dikembangkan budidaya jagung hibrida seluas 80.000 meter persegi serta padi seluas 1.400 meter persegi.
Di sektor peternakan, dikelola 7 ekor sapi, 103 ekor domba, dan sekitar 30.000 ekor ayam.
Sementara sektor perikanan menghasilkan berbagai komoditas seperti ikan patin, bandeng, dan gurami. Pada sektor hortikultura, warga binaan juga mengembangkan sistem smart farming, termasuk budidaya kelapa kopyor dan varietas hibrida lainnya.
Adapun di Lapas Kelas I Tangerang, penguatan sektor industri menjadi fokus utama. Melalui kerja sama dengan PLN, warga binaan dilibatkan dalam pengolahan limbah fly ash dan bottom ash menjadi produk beton dengan standar K-100. Produk tersebut telah berhasil menembus pasar konstruksi dengan penjualan mencapai ratusan ribu unit.
Program ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga binaan, termasuk setelah mereka kembali ke masyarakat.
Program ketahanan pangan dan pembinaan produktif ini diharapkan mampu menjadi model nasional dalam menciptakan warga binaan yang mandiri, produktif, dan siap kembali ke masyarakat.
(unt)