JAKARTA - Tahun ini Volkswagen Golf GTI genap berumur 50 tahun. Setengah abad. Usia yang panjang untuk sebuah mobil. Apalagi mobil berjenis hot hatch: mobil tanpa buntut yang mesinnya beringas.
Awalnya, di pertengahan 1970-an, mobil ini hanya sebuah proyek iseng. Proyek "bawah tanah" para insinyur Volkswagen. Mereka ditugasi membuat penerus VW Beetle (Kodok). Tapi dasar insinyur, mereka ingin mobil yang tidak sekadar jalan. Harus ringan. Harus responsif.
Maka lahirlah Golf GTI pada tahun 1976.
Mesinnya hanya 1.6 liter. Tenaganya 110 PS. Tapi karena bodinya enteng, mobil ini lincah bukan main.
Rencana awalnya sangat pesimistis: hanya akan diproduksi 5.000 unit. Edisi terbatas. Ternyata pasar mengamuk. Orang Eropa suka sekali. Lincah untuk harian, kencang untuk ditarik di jalan bebas hambatan.
Dari rencana 5.000 unit, GTI generasi pertama itu akhirnya laku 461.690 unit. Luar biasa. Dan kini, setelah 50 tahun, total Golf GTI yang terjual di seluruh dunia sudah menembus angka 2,5 juta unit.
Wajahnya memang khas. Dari dulu sampai sekarang, selalu ada garis merah melintang di grille depannya. Interiornya berorientasi murni pada pengemudi. Ia bukan sekadar mobil. Ia sudah menjadi kultur. Ada koneksi emosional antara GTI dan pemiliknya.
Tapi mari kita lihat realitasnya hari ini. Terutama di Indonesia.
Dulu, roh sebuah hot hatch adalah mobil kencang yang harganya terjangkau oleh kelas menengah pekerja. Kini? Roh itu sudah melayang entah ke mana.
Lihat saja harga Volkswagen Golf GTI (Mk8 Facelift) terbaru. Banderolnya tembus Rp1,2 miliar. Itu harga OTR Jakarta. Tepatnya Rp1.200.000.000.
Untuk sebuah mobil bermesin bensin 1.984 cc bertransmisi otomatis.
GTI tidak lagi menjadi mobil rakyat. Ia sudah melompat jauh ke atas, menjadi mainan kelas premium. Harganya hampir menyamai VW ID-Buzz (mobil listrik bergaya Kombi) yang dihargai Rp 1,495 miliar.
Bandingkan dengan saudaranya sesama VW di Indonesia. VW Polo yang bermesin 1.197 cc hanya dihargai Rp 329,5 juta. SUV ringkas T-Cross bermesin 999 cc dipatok Rp 488 juta. Bahkan Tiguan yang jauh lebih besar (mesin 1.395 cc) harganya "hanya" Rp 648 juta hingga Rp 854 juta.
Lompatan harga GTI ini membuat kita berpikir: untuk siapa sebenarnya mobil ini sekarang dibuat?
Tentu, VW berdalih soal teknologi. Memasuki era elektrifikasi, mereka berjanji akan mempertahankan karakter GTI dengan menggabungkan performa dan teknologi masa depan.
Tapi dengan harga Rp 1,2 miliar, Golf GTI di Indonesia akan lebih sering bertarung melawan prestise ketimbang bertarung kecepatan di jalan raya. Ia sukses menjadi legenda, tapi gagal mempertahankan kodrat asalnya sebagai mobil kencang yang bisa dibeli siapa saja.
(dan)