JAKARTA - Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) sukses menggelar Wisuda ke-33 di Gedung Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Rabu (22/4). Prosesi ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan pernyataan kesiapan 765 lulusan dalam menghadapi dinamika peradaban digital dengan bekal integritas dan inovasi teknologi terkini.
Sidang terbuka ini diikuti oleh 689 lulusan program sarjana dan 76 lulusan program magister. Wakil Rektor I Bidang Akademik UAI, Prof. Taufik Kasturi, mengungkapkan kebanggaannya atas capaian para wisudawan, di mana 17,25 persen atau sebanyak 132 lulusan berhasil meraih predikat cum laude.
Sorotan utama jatuh pada Faathir Alfath Risdarmawan dari Program Studi Teknik Elektro. Ia ditetapkan sebagai Wisudawan Terbaik dan Berprestasi Universitas setelah berhasil menerbitkan sembilan artikel ilmiah di jurnal internasional terindeks Scopus, sebuah pencapaian luar biasa untuk mahasiswa tingkat sarjana. Atas dedikasinya, UAI memberikan apresiasi berupa hadiah Umrah gratis.
Strategi Global, dari AI hingga Confucius InstituteDalam wawancara eksklusif, Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menekankan bahwa lulusan UAI harus memiliki kelincahan (agility) di tengah perubahan zaman yang cepat. UAI kini tengah bertransformasi dengan mengombinasikan kekuatan spiritualitas dan modernitas.
"Kami membangun kemampuan teknologi seperti AI (Kecerdasan Buatan) dan satelit. Ke depan, setiap lulusan, apa pun jurusannya, akan didorong memiliki sertifikasi AI sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)," ujar Prof. Widodo.
Selain teknologi, UAI memperkuat daya saing global melalui kolaborasi internasional. Melalui kemitraan dengan Fujian University, UAI menjadi tuan rumah satu-satunya Confucius Institute di Jakarta. Lembaga ini menjadi pusat pembelajaran bahasa Mandarin bagi publik, termasuk anggota kepolisian. Mulai semester depan, bahasa Mandarin akan dijadikan mata kuliah pilihan untuk membekali mahasiswa memasuki bursa kerja internasional yang kini banyak didominasi perusahaan global.
Integritas Berbasis Masjid dan Rumah Qur’anMeski mengejar target menjadi World Class University dengan target 27 profesor dalam empat tahun ke depan, UAI tetap memegang teguh akar keislamannya. Prof. Widodo menjelaskan bahwa integritas lulusan dibentuk melalui pembiasaan ibadah di kampus.
"Jika waktu salat Zuhur dan Asar tiba, mahasiswa diwajibkan berjamaah di masjid dan bergantian memberikan kultum. Kami juga sedang mengembangkan Asrama Mahasiswa dan Rumah Qur’an sebagai ekosistem pembinaan karakter," tambahnya.
Rektor juga mengingatkan para wisudawan untuk memegang tiga prinsip utama: menjaga integritas, belajar sepanjang hayat, dan menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengutip penyair Kahlil Gibran, ia berpesan, "Hal terbesar dalam hidup bukanlah di mana kita berdiri, melainkan arah yang kita tuju."
Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh tokoh nasional Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Ketua Pembina YPI Al Azhar), Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, serta orasi ilmiah dari alumni berprestasi, H. Alfian Mahardika, S.H.
Dengan fasilitas kelas interaktif di 36 ruang kelas dan pengadaan TV digital, UAI berkomitmen terus menjadi jembatan antara perkembangan spiritualitas Islam dan kemajuan peradaban di era digital.
(unt)