JAKARTA - Perumda Dharma Jaya memperkuat strategi konsolidasi internal dan kolaborasi antar
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) guna menjaga ketahanan pangan Jakarta dalam menghadapi dinamika global, khususnya potensi gangguan pasokan bahan pangan impor. Hal ini sesuai dengan arahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang mendorong konsolidasi BUMD DKI agar dapat berkiprah ke panggung nasional dan internasional.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman menuturkan terus memperkuat tata kelola perusahaan melalui penerapan prinsip good corporate governance (GCG) yang menekankan integritas, profesionalisme, dan transparansi.
“Penilaian GCG kami terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Ini menjadi indikator bahwa perbaikan tata kelola berjalan sesuai arah yang diharapkan,” kata Raditya, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Jaga Ketahanan Pangan, Dharma Jaya Tambah Modern Channel Dalam hal kolaborasi antar-BUMD, koordinasi terus dilakukan terutama dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok. Saat ini, kondisi pasar masih relatif normal, namun kesiapsiagaan tetap ditingkatkan apabila terjadi gejolak.
“Kolaborasi dengan BUMD lain, termasuk Food Station saat ini difokuskan pada penguatan stok dan kegiatan rutin seperti bazar pangan. Jika terjadi gejolak, bentuk kerja sama akan lebih intensif,” ucapnya.
Saat ini, Perumda Dharma Jaya mengantisipasi potensi kelangkaan bahan baku, terutama komoditas impor seperti daging sapi yang dipengaruhi faktor global, termasuk ketersediaan kapal logistik, kelangkaan bahan bakar, serta kebijakan stok di negara asal.
Selain daging sapi, Dharma Jaya juga memastikan ketersediaan protein hewani lainnya seperti ayam melalui kerja sama antardaerah. Dalam waktu dekat, perusahaan akan melakukan penjajakan pasokan ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa, termasuk Blitar guna mengamankan distribusi stok.
“Kerja sama antardaerah menjadi kunci, terutama untuk memastikan pasokan ayam tetap stabil. Kami mulai berkoordinasi dengan beberapa daerah penghasil,” kata Raditya.
Di tingkat nasional, kontribusi Dharma Jaya diwujudkan melalui kerja sama antardaerah dan sinergi dengan BUMN, khususnya untuk komoditas tertentu seperti daging kerbau dan daging sapi impor.
Namun demikian, pihaknya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar tidak merugikan daerah produsen. “Kami tidak ingin seluruh pasokan ditarik ke Jakarta. Daerah juga harus tetap memiliki pasar. Peran kami bisa dalam bentuk dukungan permodalan maupun peningkatan kapasitas,” ujarnya.
Sekitar 98 persen kebutuhan pangan Jakarta berasal dari luar daerah, sehingga peran kolaborasi nasional menjadi sangat penting dalam menjaga kesinambungan pasokan.
Gubernur Pramono menekankan pentingnya konsolidasi BUMD dalam satu tahun ke depan serta menghilangkan ego sektoral yang selama ini menghambat sinergi. Dia juga mendorong BUMD Jakarta untuk tidak hanya menjadi pemain lokal, tetapi mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Dia berkomitmen membangun corporate culture yang sehat, disiplin, dan transparan. Raditya juga berpesan agar BUMD Jakarta dikelola secara transparan, profesional dan tidak dibebani persoalan-persoalan yang tidak produktif.
Pramono turut mengingatkan adanya tantangan global, seperti dinamika geopolitik dan fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi sektor energi dan pangan. Karena itu, seluruh BUMD diminta menyiapkan langkah antisipatif dan adaptif.
Kepala Badan Pembinaan BUMD DKI Jakarta Syaefuloh Hidayat menambahkan dalam BUMD Forum Leaders dibahas upaya akselerasi kinerja investasi dan kemandirian finansial melalui pembiayaan kreatif dan sinergi pembiayaan perbankan.
(jon)