JAKARTA - Lukisan karya Denny JA menerima berkat dari
Paus Fransiskus saat melintas di depan Galeri Nasional Jakarta pada September 2024. Saat ini, lukisan tersebut diperkirakan memiliki nilai hingga Rp34 miliar.
Estimasi tersebut disusun melalui pendekatan skenario pasar berbasis analisis kecerdasan buatan (AI), dengan membandingkan transaksi karya seni bertema religius di lelang internasional dalam periode 2015-2024.
Analisis ini disampaikan Akademisi dan Pengamat Budaya Satrio Arismunandar yang mengkaji peristiwa tersebut dari perspektif sejarah, sosiologi seni, dan ekonomi simbolik.
Berdasarkan dokumentasi dan kesaksian yang tersedia, peristiwa terjadi saat iring-iringan Paus melintas di depan Galeri Nasional Jakarta. Saat kendaraan melambat, sebuah lukisan karya Denny JA yang sedang dipamerkan diangkat oleh seorang pendeta bernama Sylvana.
Lihat video: Denny JA Pamerkan 188 Lukisan Artificial Intelligence Karyanya di Hotel Lukisan tersebut menampilkan adegan simbolik seorang Paus mencuci kaki rakyat kecil—sebuah representasi kerendahan hati dalam tradisi Injil. Paus kemudian membuka jendela kendaraan, menyapa, mendoakan, dan memberikan berkat kepada lukisan tersebut.
Peristiwa berlangsung singkat dan tidak direncanakan. Dokumentasi visual tambahan masih diperlukan untuk memperkuat validasi historis kejadian ini.
Menurut Satrio, peristiwa tersebut berpotensi meningkatkan nilai karya melalui fenomena symbolic elevation, yakni peningkatan status karya akibat keterkaitannya dengan peristiwa historis.
"Lukisan ini memiliki beberapa lapisan nilai sekaligus: karya seni visual, simbol religius, artefak yang terkait peristiwa, dan narasi lintas iman," ujarnya dikutip Kamis (30/4/2026).
Lihat video: Umat Katolik Beri Penghormatan Untuk Paus Fransiskus di Gereja Katedral
Pendekatan ini merujuk pada konsep kapital simbolik dari Pierre Bourdieu, yang menekankan bahwa nilai karya seni tidak hanya ditentukan oleh aspek estetika, tetapi juga konteks sosial dan historis yang menyertainya.
Berdasarkan pemodelan AI, estimasi nilai lukisan dibagi dalam beberapa scenario yakni, Konservatif: USD150.000-400.000 (Rp2,5-6,5 miliar). Menengah: USD400.000-900.000 (Rp6,5-14 miliar), dan Premium: USD1-1,5 juta (Rp16-24 miliar). Sedangkan, skenario khusus pembeli hingga USD2 juta (sekitar Rp34 miliar).
Nilai tertinggi dinilai sangat bergantung pada faktor non-pasar, seperti keterikatan emosional, religius, serta relevansi narasi bagi kolektor tertentu.
Sebagai pembanding, karya bertema Vatikan dalam periode yang sama tercatat berada pada kisaran USD200.000 hingga USD1,8 juta di rumah lelang internasional.
Analisis juga menyoroti kekuatan narasi yang menyertai karya ini, antara lain: seniman berlatar belakang Muslim, subjek lukisan adalah pemimpin Katolik, tema kerendahan hati sebagai pesan universal, dan peristiwa terjadi secara spontan di ruang publik. Kombinasi tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat dalam konteks dialog lintas iman dan berpotensi meningkatkan nilai di pasar global.
Denny JA dikenal sebagai figur multidisipliner yang aktif di bidang sastra, pemikiran sosial, dan konsultasi publik. Ia juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina Hulu Energi. Pengalaman lintas bidang tersebut dinilai memperkaya konteks interpretasi atas karya-karyanya.
Estimasi nilai dalam analisis ini bersifat indikatif dan bukan harga transaksi final. Nilai aktual sangat bergantung pada kurasi dan eksposur internasional, kelengkapan dokumentasi, dan penilaian independen oleh kurator dan appraiser bersertifikat.
Verifikasi faktual tetap diperlukan untuk memastikan kekuatan narasi historis yang menjadi dasar valuasi. Lukisan ini menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat mengalami peningkatan makna ketika terkait dengan peristiwa yang memiliki dimensi simbolik dan historis, sekaligus menegaskan peran seni sebagai medium dialog lintas budaya dan iman.
(cip)