floating-Didukung AS dan Kaya...
Didukung AS dan Kaya Minyak, Wilayah Alberta Tuntut Merdeka dari Kanada
Didukung AS dan Kaya...
Didukung AS dan Kaya Minyak, Wilayah Alberta Tuntut Merdeka dari Kanada
Selasa, 05 Mei 2026 - 09:39 WIB
EDMONTON - Kanada, salah satu negara NATO, sekarang terancam pecah setelah Provinsi Alberta yang kaya minyak menginginkan pisah atau merdeka. Kubu pro-kemerdekaan di provinsi itu ramai-ramai menuju ibu kota provinsi, Edmonton, pada hari Senin untuk mengajukan petisi yang menuntut diadakannya referendum kemerdekaan.

Kubu pro-kemerdekaan menyatakan petisi tersebut sudah memiliki cukup tanda tangan untuk memaksa diadakannya referendum.

Baca Juga: Trump Sebut Kanada Menentang Kubah Emas di Greenland, AS Bisa Caplok Kanada

Provinsi Alberta yang berpenduduk sekitar lima juta jiwa ini telah lama menyuarakan kemerdekaan. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, gerakan pro-kemerdekaan telah mendapatkan momentum untuk memicu pemungutan suara.

Jajak pendapat menempatkan dukungan pro-kemerdekaan sekitar 30 persen, tetapi bahkan jika pihak federalis memenangkan referendum yang prospektif, para pemimpin di kedua pihak mengatakan proses tersebut telah mengubah Kanada secara permanen.

Berdiri di luar gedung legislatif provinsi pada Minggu malam, mantan wakil perdana menteri Alberta yang juga aktivis dari kubu federalis, Thomas Lukaszuk, mengatakan kepada AFP bahwa dia kini kesulitan untuk melihat bendera provinsi Alberta berwarna biru yang berkibar di belakangnya, karena menurutnya bendera itu telah disalahgunakan oleh kaum separatis.

“Bendera itu melambangkan sesuatu yang sebagian besar dari kita, warga Alberta dan Kanada, tidak dukung. Itu adalah bentuk pengkhianatan,” kata Lukaszuk, yang pindah ke Kanada saat masih kecil ketika keluarganya mencari perlindungan dari komunis Polandia.

Dukungan Diam-diam dari AS



Lukaszuk mengakui bahwa beberapa kaum separatis memiliki keluhan yang sah yang harus diatasi oleh Ottawa, termasuk demonisasi industri minyak yang tetap menjadi sumber penghidupan penting di provinsi tersebut.

Lukaszuk, yang memimpin kampanye Forever Canadian Alberta, mengatakan gerakan separatis yang sedang berlangsung telah dibantu oleh perdana menteri sayap kanan, Danielle Smith, yang telah berupaya menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Partai Republik Amerika Serikat—Presiden Donald Trump.

Menurutnya, dukungan diam-diam dari Washington, termasuk beberapa pertemuan Departemen Luar Negeri, juga telah membantu.

“Para separatis bukanlah anggota terpilih. Mereka hanyalah warga negara Kanada yang tinggal di Alberta, dan mereka benar-benar membentuk delegasi dan diterima oleh tingkat tertinggi pemerintahan AS. Itu pasti sangat memberdayakan mereka,” katanya kepada AFP, Selasa (5/5/2026).

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menuai kemarahan dari Kanada pada bulan Januari ketika dia mengatakan Alberta dan Amerika Serikat akan menjadi “mitra alami”.

Kelompok yang mengoordinasikan upaya separatis, Stay Free Alberta, memiliki waktu hingga awal Mei untuk mengumpulkan 178.000 tanda tangan.

Pemimpin mereka, Mitch Sylvestre, mengatakan kepada AFP pekan lalu bahwa mereka telah dengan mudah melewati ambang batas tersebut.

Para separatis memasuki Edmonton dalam konvoi pada hari Senin sebelum Sylvestre mencoba menyampaikan petisinya kepada pejabat provinsi.

Suku Bangsa Pertama Alberta—kelompok masyarakat adat yang menandatangani perjanjian dengan Inggris sebelum Kanada merdeka—telah mengajukan gugatan ke pengadilan, dengan alasan bahwa pemisahan Alberta akan melanggar hak-hak perjanjian mereka, sebuah kasus yang dapat membuat seluruh proses menjadi tidak berarti.

Namun Michael Wagner, seorang sejarawan independen dan pendukung lama kemerdekaan Alberta, mengatakan pekan lalu bahwa dampak dari upaya separatis akan bertahan lama.

“Bahkan jika kita kalah dalam referendum, (ini) tidak akan hilang begitu saja,” katanya kepada AFP. “Saya pikir ini akan menjadi perubahan permanen dalam budaya politik kita.”

Lukaszuk mengatakan dia telah tinggal di Alberta selama 46 tahun. "Dan belum pernah melihat provinsi ini terpecah belah seperti sekarang ini," katanya.

“Tetangga tidak berbicara dengan tetangga, anggota keluarga tidak berbicara dengan anggota keluarga, dan itu sangat merusak tatanan provinsi kita," paparnya.

Alberta bergabung dengan konfederasi Kanada pada tahun 1905 dan rasa tidak puas terhadap para pemimpin politik timur di Ontario dan Quebec memicu gerakan separatis marginal di berbagai titik selama abad terakhir.

Namun kemarahan terhadap Ottawa meningkat sebagai protes terhadap Program Energi Nasional tahun 1980 mantan perdana menteri Pierre Trudeau, yang memperluas kendali Ottawa atas industri minyak.

Program tersebut mencakup pajak baru yang memberi Ottawa lebih banyak pendapatan dari minyak Alberta sebagai pengaman setelah guncangan harga minyak tahun 1970-an.

Wagner menyebut program tersebut sebagai "pengubah permainan", yang memperkuat gagasan kemerdekaan.

Sekitar 35 tahun kemudian, putra Trudeau, Justin Trudeau, terpilih sebagai perdana menteri dengan agenda yang sadar iklim yang dikecam oleh banyak orang di Alberta.

Beberapa pendukung kemerdekaan menginginkan Alberta bergabung dengan Amerika Serikat, tetapi para pemimpin kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka hanya mencari dukungan Trump untuk mengamankan pemisahan dari Kanada.
(mas)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout