JAKARTA - Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz diprediksi akan memicu lonjakan harga komoditas global secara signifikan akibat terganggunya rantai pasok energi dan bahan baku pangan. Krisis ini dinilai tidak hanya berdampak pada sektor bahan bakar, tetapi juga mengancam ketahanan pangan negara-negara dengan populasi besar seperti China dan India.
"Selat Hormuz itu banyak sekali dampaknya. Pupuk ternyata banyak dari Hormuz karena bahan bakunya berasal dari gas, sementara 20% aliran minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut," ujar Founder Bennix Investor Group, Benny Batara dalam podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, dikutip Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Bennix: Sepanjang Indonesia Hobi Impor Minyak, Rupiah Bisa Babak Belur Tembus Rp20.000 Benny menjelaskan gangguan pada distribusi gas dari kawasan tersebut akan langsung memukul industri pupuk global. Kelangkaan pupuk menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian yang dapat berujung pada kegagalan panen massal, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan baku pupuk dari wilayah Teluk.
Menurutnya, China dan India bakal menjadi negara yang paling terdampak dan mengalami kepanikan luar biasa mengingat jumlah penduduk mereka yang sangat besar. Jika ketersediaan pangan terganggu dan memicu kelaparan, hal tersebut berpotensi menimbulkan ketidakstabilan keamanan dan gejolak sosial.
"China dan India bakal panik. Penduduknya paling besar, kalau sampai terjadi kelaparan, itu bisa menimbulkan gejolak sosial yang sangat berat," ujar pria yang akrab disapa Bennix tersebut.
Disisi lain, Indonesia memiliki peluang strategis peluang strategis, khususnya dalam sektor pupuk urea. Indonesia saat ini memiliki kondisi kelebihan pasokan (oversupply) pada komoditas urea, yang memungkinkannya untuk menjadi eksportir di tengah krisis global.
Baca Juga: Demi Bertahan Hidup, Singapura Disebut Siapkan Serangan Finansial ke Indonesia Ia mengungkapkan bahwa India bahkan telah mulai mengirimkan perwakilan untuk mengamankan impor pupuk dari Indonesia guna mengantisipasi gagal panen di negaranya. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya kekhawatiran atas terhentinya pasokan urea yang selama ini mereka datangkan melalui Selat Hormuz.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama pelaku pasar komoditas karena fungsinya sebagai "keran" energi dunia. Jika ketegangan di wilayah tersebut terus meningkat, hukum alam ekonomi akan memastikan harga komoditas terus bergerak naik pada akhirnya membebani biaya hidup masyarakat dunia.
(nng)