JAKARTA - Ajang World Post Graduate Expo 2026 menjadi momentum penguatan kolaborasi
pendidikan tinggi antara Indonesia dan Malaysia.
Dalam kegiatan yang sukses digelar Sabtu (9/5/2026) di Jakarta, berbagai universitas ternama Malaysia menawarkan peluang studi lanjut, riset bersama, hingga beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk mendukung lahirnya sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Chairman Education Malaysia Global Services (EMGS), Datuk Ahmad Shalimin Ahmad Shaffie, menegaskan bahwa Malaysia datang ke Indonesia bukan sekadar sebagai mitra pendidikan, melainkan sebagai saudara serumpun yang memiliki visi bersama dalam memajukan kawasan.
Baca juga:Pendaftaran SIMAK UI 2026 Resmi Dibuka, Catat Jadwal Ujian hingga Biaya Pendaftaran“Hari ini adalah pertemuan dua bangsa yang serumpun. Bertaut darah, bahasa, dan cita-cita. Apabila Malaysia datang ke Jakarta, kami tidak datang sebagai tetamu. Kami datang sebagai saudara,” ujar Datuk Ahmad Shalimin dalam sambutannya di World Post Graduate Expo 2026.
Ia menegaskan Malaysia berkomitmen mendukung Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan pendidikan tinggi dan pengembangan modal insan berilmu tinggi.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan ratusan ribu lulusan pascasarjana baru dalam dua dekade mendatang untuk memimpin penemuan, membentuk kebijakan, serta menciptakan industri masa depan.
Karena itu, EMGS yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia hadir untuk membuka akses mahasiswa Indonesia ke berbagai universitas unggulan Malaysia yang selama ini telah menjadi rumah kedua bagi ribuan pelajar asal Indonesia.
Dia juga menyoroti pentingnya kolaborasi riset antara Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim, kesehatan publik, kelestarian lingkungan, hingga geopolitik.
Ia berharap kerja sama kedua negara tidak berhenti pada pertukaran mahasiswa maupun penandatanganan nota kesepahaman semata, tetapi berkembang menjadi jaringan penelitian regional yang nyata.
“Penyelidik muda Indonesia dan Malaysia harus menjadi arkitek penyelesaian bertaraf global pada dekad mendatang,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia turut memotivasi calon mahasiswa pascasarjana agar memandang pendidikan magister dan doktoral bukan hanya sebagai pencapaian gelar, melainkan proses pembentukan karakter intelektual dan kepemimpinan.
Ia menambahkan, Malaysia menawarkan lingkungan pendidikan yang aman, berkualitas, dan bertaraf dunia dengan pengawasan ketat pemerintah terhadap institusi pendidikan tinggi.
Beberapa kampus yang hadir dalam expo tersebut di antaranya University of Malaya (UM), Universiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Universiti Teknologi Petronas (UTP), International Islamic University Malaysia (IIUM), hingga Asia Pacific University (APU).
Mewakili Pemerintah Indonesia, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minat Saintek) Kemendiktisaintek, Yudi Darma, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan World Post Graduate Expo 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar pameran pendidikan biasa, melainkan jembatan strategis antara ambisi intelektual bangsa dengan peluang pendidikan global terbaik.
“Kami merasa masyarakat kita membutuhkan ruang-ruang seperti ini, yaitu ruang untuk berbagi informasi tentang studi lanjut, sekaligus ruang kolaborasi bagi para akademisi dan dosen lintas institusi dan lintas negara,” ujar Yudi.
Ia menilai Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan yang jauh lebih dalam dibanding sekadar negara bertetangga karena diikat oleh warisan budaya dan visi bersama untuk menjadi kekuatan intelektual kawasan.
“Indonesia dan Malaysia bukan sekadar dua negara bertetangga, kita adalah serumpun. Satu rumpun perasaan, satu warisan budaya, dan kini satu visi untuk menjadi kekuatan intelektual kawasan yang diperhitungkan dunia,” katanya.
Salah satu peserta pameran, perwakilan Universiti Teknologi Petronas (UTP), Akil Zafri, menjelaskan bahwa kampusnya saat ini menjadi universitas swasta nomor satu di Malaysia berdasarkan pemeringkatan QS dan Times Higher Education.
UTP menawarkan berbagai program riset dan beasiswa untuk jenjang magister maupun doktoral, khususnya di bidang engineering. Beasiswa magister diberikan hingga dua tahun, sedangkan program doktoral mencapai 3,5 tahun.
“Untuk PhD kami memiliki sekitar 60 kuota beasiswa setiap tahun yang terbuka bagi mahasiswa internasional dan Malaysia,” ujar Akil.
Selain program tatap muka di kampus utama di Perak, UTP juga menyediakan skema Open Distance Learning (ODL) untuk program master berbasis coursework yang dapat diikuti secara daring dari Indonesia.
Sementara itu, perwakilan Graduate School of Management International Islamic University Malaysia (IIUM), Farah, menjelaskan bahwa kampusnya fokus pada program executive postgraduate untuk para profesional.
Program seperti MBA, Master of Management, dan DBA dirancang berbasis coursework guna membantu pekerja profesional meningkatkan kompetensi dan jenjang karier.
Farah menambahkan, salah satu keunggulan utama IIUM adalah integrasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan bisnis dan kepemimpinan.
“Bukan sahaja perusahaan itu untuk profit maximization sahaja, tetapi bagaimana menjadi pemimpin yang beretika dan baik,” jelas Farah.
(nnz)