MANILA - Pemerintah
Filipina memperingatkan mantan kepala kepolisian nasional Ronald “Bato” Dela Rosa untuk tidak melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari surat perintah penangkapan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Sekutu mantan presiden Rodrigo Duterte ini diburu ICC terkait "perang anti-narkoba" di negara tersebut.
Bato, yang sekarang menjabat sebagai senator, nyaris lolos dari penangkapan pada hari Senin ketika dia mencari perlindungan di gedung Senat. Namun, dia pergi tanpa pemberitahuan ke lokasi yang tidak diketahui pada hari Kamis.
Baca Juga: Wapres Ini Segera Dimakzulkan, Terancam Dilarang Berpolitik Seumur Hidup Menteri Kehakiman Fredderick Vida mengonfirmasi bahwa Manila telah menerima surat perintah penangkapan untuk Bato Dela Rosa dari ICC, tetapi sedang menunggu Mahkamah Agung Filipina untuk menyelesaikan petisi senator yang menantang legalitas surat perintah tersebut.
“Departemen Kehakiman akan menganggap setiap upaya Senator Bato Dela Rosa untuk meninggalkan negara sebagai ejekan terhadap keadilan,” kata Vida dalam konferensi pers, Jumat (15/5/2026).
"Petugas penegak hukum dan petugas perbatasan diinstruksikan bahwa jika Senator Bato Dela Rosa mencoba meninggalkan negara, maka penangkapan yang sesuai harus dilakukan," ujarnya, seperti dikutip dari
AFP.
ICC pada hari Senin membuka segel surat perintah penangkapan terhadap Bato Dela Rosa (64), menuduhnya bersama Duterte dan “pelaku bersama” lainnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan di luar hukum.
Presiden Senat Alan Peter Cayetano mencegah agen pemerintah untuk menangkap Bato Dela Rosa—yang juga sekutu politiknya—pada hari Senin, memberinya perlindungan di gedung tersebut.
Bato Dela Rosa menjabat sebagai kepala kepolisian nasional dari tahun 2016 hingga 2018 selama fase awal kampanye anti-narkoba Duterte dan terpilih untuk dua periode enam tahun berturut-turut di Senat pada tahun 2019 setelah pensiun dari kepolisian.
Penindakan anti-narkoba tersebut menyebabkan ribuan orang tewas, banyak di antaranya pengguna narkoba dan pengedar narkoba tingkat rendah, menurut pengawas hak asasi manusia (HAM).
Bato Dela Rosa telah meminta Mahkamah Agung untuk menghentikan pemerintah dari penegakan surat perintah penangkapan ICC dan menyatakan preferensi untuk diadili di pengadilan Filipina jika dia didakwa.
Atasannya, Duterte, telah ditangkap pada Maret tahun lalu, diterbangkan ke Belanda pada hari yang sama, dan ditahan di Den Haag menunggu persidangan.
(mas)