JAKARTA -
Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan
Jawa Tengah meluncurkan awan panas guguran pada Rabu (20/5/2026) sore. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (
BPPTKG ) mencatat awan panas guguran meluncur sejauh 1,5 kilometer ke arah barat daya atau hulu Kali Sat/Putih.
"Awan panas guguran terjadi pada pukul 16.19 WIB dengan amplitudo maksimum 7,01 mm dan durasi 143,56 detik," demikian dikutip dari laporan resmi BPPTKG, Rabu (20/5/2026).
Selain itu, sepanjang periode pengamatan pukul 12.00-18.00 WIB, petugas juga mencatat adanya fenomena luncuran guguran lava. Tercatat satu kali guguran lava ke arah barat daya (hulu Kali Krasak) dengan jarak luncur 1.500 meter serta empat kali guguran lava ke arah barat daya (hulu Kali Sat/Putih) dengan jarak luncur maksimum 1.600 meter.
Baca Juga: Satu Korban Meninggal Erupsi Gunung Dukono Ditemukan, 2 Lainnya Dalam Pencarian Secara kegempaan, selama periode pengamatan BPPTKG merekam 1 kali awan panas guguran, 26 kali guguran, dan 12 kali gempa hybrid/fase banyak. BPPTKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi daerah bahaya dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta mematuhi rekomendasi resmi.
"Saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga)," tulis laporan tersebut.
Dalam rekomendasinya, BPPTKG menyebut potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
"Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya," demikian rekomendasi BPPTKG dalam laporan aktivitas Gunung Merapi.
(zik)