LONDON - Sebuah jet tempur
Rusia telah melakukan intersepsi atau pencegatan terhadap pesawat mata-mata Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dalam jarak enam meter di atas Laut Hitam. Dalam intersepsi yang menegangkan tersebut, kedua pesawat nyaris bertabrakan di udara.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey, sebagaimana dikutip
The Guardian, Kamis (21/5/2026), menggambarkannya sebagai manuver "berbahaya dan tidak dapat diterima. Menurutnya, jet tempur Su-27 Rusia terbang dalam jarak enam meter dari pesawat Rivet Joint RAF yang terbang dengan kecepatan 500 mph di atas Laut Hitam.
Baca Juga: Prancis Kirim Bom Nuklir ke Anggota NATO Lainnya, Rusia Marah Besar! Menurutnya, itu merupakan salah satu dari dua insiden di udara bulan lalu. Healey mengeklaim jet tempur Su-27 melakukan enam kali lintasan di depan pesawat Rivet Joint yang tak bersenjata—yang terbang dekat dengan hidungnya, mempertaruhkan tabrakan yang dapat menyebabkan krisis diplomatik antara kedua negara.
Pada kesempatan kedua, juga pada pertengahan April, sebuah jet tempur Su-35 Rusia terbang cukup dekat dengan pesawat mata-mata Inggris sehingga memicu sistem daruratnya, termasuk menonaktifkan autopilot, saat pesawat tersebut melakukan misi pengawasan di wilayah udara internasional.
Rivet Joint adalah pesawat mata-mata dengan awak hingga 30 orang. Pesawat ini mampu melakukan pengawasan elektronik dalam jangkauan sekitar 150 mil, dan akan memantau aktivitas Rusia sebagai bagian dari patroli NATO.
“Insiden ini adalah contoh lain dari perilaku berbahaya dan tidak dapat diterima oleh pilot Rusia, terhadap pesawat tak bersenjata yang beroperasi di wilayah udara internasional,” kata Healey.
“Tindakan ini menciptakan risiko serius kecelakaan dan potensi eskalasi," ujarnya.
Ini adalah tindakan Rusia paling berbahaya terhadap pesawat Rivet Joint Inggris sejak sebuah pesawat menembakkan rudal di atas Laut Hitam pada tahun 2022, kata Kementerian Pertahanan Inggris pada hari Rabu.
Rusia telah meningkatkan aktivitas militernya di Eropa. Para politisi Lithuania berlindung di bawah tanah pada hari Rabu dan lalu lintas udara di bandara Vilnius ditangguhkan sementara setelah sebuah drone melanggar wilayah udara negara tersebut.
Sehari sebelumnya, duta besar Rusia untuk PBB mengeklaim Moskow memiliki informasi bahwa Ukraina berencana meluncurkan drone militer dari Latvia dan negara-negara Baltik lainnya. Latvia menolak komentar tersebut sebagai "fiksi belaka".
Bulan lalu, dua fregat Rusia mengawal kapal tanker minyak dan pengiriman senjata yang diduga melalui Laut Utara dan Selat Dover. Aktivitas mereka membutuhkan patroli pengawasan selama sebulan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris.
Juga pada bulan lalu, Healey mengungkapkan bahwa Inggris telah melacak tiga kapal selam Rusia yang berkeliaran di atas infrastruktur bawah laut penting di Atlantik Utara selama sebulan sebelum mereka berlayar pergi.
“Saya ingin memberikan penghormatan kepada profesionalisme dan keberanian luar biasa dari awak RAF yang melanjutkan misi mereka meskipun menghadapi tindakan berbahaya ini,” kata Healey.
“Izinkan saya menjelaskan dengan sangat jelas: Insiden ini tidak akan menghalangi komitmen Inggris untuk membela NATO, sekutu kami, dan kepentingan kami dari agresi Rusia," imbuh dia.
(mas)