DUBAI - Penasihat Presiden Uni Emirat Arab Anwar Gargash memperingatkan setiap langkah Iran untuk mengubah status Selat Hormuz akan memiliki dampak global yang serius, termasuk bagi Eropa, dan akan menjadi preseden yang buruk. Pernyataan itu muncul seiring proses negosiasi Iran dan Amerika Serikat yang berjalan lambat.
Dalam komentar yang dimuat Reuters, Gargash mengatakan negara-negara Eropa seharusnya memandang kendali Iran atas Selat Hormuz bukan sebagai masalah yang jauh, tetapi sebagai masalah yang terkait langsung dengan keamanan energi dan perdagangan mereka.
Ia juga mengatakan AS telah menjadi "lebih sentral" dalam perhitungan setiap negara Teluk setelah perang Iran.
Melanjutkan komentarnya tentang Selat Hormuz, Anwar Gargash mengatakan hanya ada peluang "50-50" bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan yang membuka Selat Hormuz.
Para pejabat Iran "telah melewatkan banyak peluang selama bertahun-tahun karena ada kecenderungan untuk melebih-lebihkan kekuatan mereka," kata Gargash. “Saya harap mereka tidak melakukan itu kali ini.”
Perang AS-Israel terhadap Iran telah secara fundamental mengubah hubungan antara negara-negara GCC, menurut Mohamad Elmasry dari Doha Institute for Graduate Studies.
Negara-negara ini secara politik “sangat berbeda, mereka memiliki pendekatan yang sangat berbeda dalam menangani apa yang terjadi, dan dalam menangani Iran, sehingga beberapa keretakan muncul ke permukaan, dan Anda melihat kubu-kubu baru muncul,” kata Elmasry kepada Al Jazeera.
“UEA cukup aktif di medan perang. Mereka ingin Israel dan Amerika Serikat menyelesaikan pekerjaan itu, mereka telah melakukan serangan terhadap Iran dan telah menormalisasi hubungan dengan Israel.”
Qatar dan Oman, di sisi lain, “secara historis memiliki hubungan yang relatif positif dengan Iran, dan meskipun sekarang jelas ada ketegangan, mereka tidak menginginkan kembalinya perang,” ungkap Elmasry.
“Arab Saudi berada di tengah-tengah, tetapi mereka semakin mendekati posisi Qatar dan Oman.”
“Saya pikir ini akan menarik untuk diikuti, karena keesokan harinya, ketika semuanya sudah tenang, akan ada lebih banyak ketegangan dan perselisihan di Teluk sebagai akibat dari apa yang telah terjadi selama perang ini,” ujar Elmasry.
Baca juga: AS Dituding Berencana Dominasi Amerika Latin Sepenuhnya (sya)