JAKARTA - Percepatan adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di berbagai sektor industri saat ini mendorong kebutuhan krusial akan infrastruktur digital yang aman dan tangguh di Indonesia. Transformasi ini diproyeksikan mampu memberikan kontribusi ekonomi yang masif, di mana investasi AI diperkirakan menyumbang hingga USD366 miliar atau setara Rp6.481 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2030.
"Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan bukan lagi sekadar visi untuk masa depan—ini menjadi kebutuhan bisnis bagi organisasi yang ingin tetap kompetitif, lincah, dan tangguh," ujar Country Leader Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) Indonesia, Novse Hardiman, dalam acara ALE AI Forum 2026, dikutip pada Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Data Center, AI, dan Keamanan Siber Jadi Pilar Fundamental Ekonomi Novse menambahkan, melalui forum bertajuk "Enabling Indonesia’s Intelligent Digital Infrastructure" mendorong organisasi di Indonesia untuk mengadopsi AI. Langkah ini dilakukan dengan membangun infrastruktur digital yang cerdas, aman, dan berbasis data guna menyederhanakan kompleksitas operasional sekaligus membuka ruang inovasi dalam skala besar.
Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor kunci dalam mendukung transformasi bisnis sekaligus menjaga daya saing di era ekonomi digital. Seiring meningkatnya volume data dan kompleksitas sistem, infrastruktur yang siap AI (AI-ready infrastructure) kini menjadi fondasi penting dalam menjaga keamanan siber, keberlangsungan bisnis, serta keberlanjutan jangka panjang.
Dalam forum yang mempertemukan pelaku industri, inovator, dan pengambil kebijakan tersebut, para pemimpin industri menekankan integrasi AI pada jaringan perusahaan dan pusat data (data center) mampu meningkatkan visibilitas operasional. Kehadiran teknologi ini juga terbukti efektif dalam mendorong efisiensi bisnis secara signifikan.
Lebih lanjut, integrasi teknologi canggih ini memungkinkan terbentuknya ekosistem digital yang lebih adaptif, otomatis, dan siap menghadapi kebutuhan masa depan. Peserta forum juga mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk meningkatkan kinerja pusat data, memperkuat keandalan operasional, serta mengelola beban kerja berbasis data secara lebih efisien.
Baca Juga: Lewat Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026, Telkom Kokohkan Fondasi Digital Nasional Optimisme penguatan pasar ini sejalan dengan proyeksi lembaga riset Gartner, yang mencatat bahwa belanja global untuk AI diperkirakan mencapai 2,5 triliun dolar AS pada tahun 2026 dan akan terus meningkat hingga 3,3 triliun dolar AS pada tahun 2027. Investasi terbesar global tersebut dipastikan terserap pada sektor pengembangan infrastruktur.
Sementara di Indonesia, lonjakan kontribusi AI terhadap PDB didorong utamanya oleh tiga sektor jangka panjang. Sektor-sektor penggerak utama tersebut meliputi industri manufaktur, perdagangan elektronik (e-commerce), serta sektor jasa keuangan.
(nng)