JAKARTA - PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH),
perusahaan teknologi dan solusi pembayaran perkenalkan identitas baru sebagai bagian dari transformasi strategis. CASH secara resmi mengumumkan
rebranding dan pembaruan identitas visual dari “cashlez” menjadi “cashUP” sebagai bagian dari
transformasi bisnis yang menyeluruh.
Perubahan ini bukan sekadar pembaruan logo atau merek, melainkan sinyal strategis atas repositioning perusahaan dari payment aggregator menjadi ekosistem teknologi dan solusi pembayaran yang terintegrasi. Rebranding cashUP disertai dengan penguatan model bisnis, termasuk ekspansi lini produk, pengembangan teknologi SoftPOS, memperluas ekosistem kemitraan, serta ekspansi nasional.
Perusahaan juga mulai mengintegrasikan teknologi AI (Artificial Intelligence) untuk mendukung deteksi fraud real-time, analitik bisnis berbasis data transaksi, dan personalisasi layanan merchant. Hingga akhir 2025, cashUP telah menjangkau merchant di 37 provinsi dengan lebih dari 30.000 merchant terdaftar, meningkat 22% dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: CASH Fokus Perkuat Fundamental di Tengah Perkembangan Pembayaran Digital
“Perubahan ini merupakan cerminan dari komitmen perusahaan untuk terus berinovasi dan menghadirkan solusi yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada pertumbuhan mitra cashUP di berbagai sektor usaha,” ujar manajemen cashUP.
Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian 2025 yang telah diaudit, cashUP mencatat pendapatan sebesar Rp110,19 miliar pada tahun 2025. Di tengah proses transformasi bisnis dan persaingan industri pembayaran digital yang semakin kompetitif, Perseroan masih membukukan rugi bersih sebesar Rp67,74 miliar.
Meski demikian, cashUP berhasil memperkuat posisi keuangannya dengan total aset mencapai Rp271,63 miliar serta peningkatan signifikan pada kas dan setara kas menjadi Rp71,90 miliar, dibandingkan Rp17,03 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan penguatan likuiditas Perseroan untuk mendukung pengembangan bisnis dan ekspansi usaha ke depan.
Baca Juga: Memanfaatkan Tren Pembayaran Digital
Langkah rebranding ini hadir di tengah momentum yang tepat. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memproyeksikan industri jasa pembayaran Indonesia terus bertumbuh, dengan nilai transaksi digital yang diperkirakan melampaui Rp2.000 triliun pada 2026.
Tingkat inklusi keuangan yang ditargetkan melampaui 85% menjadi peluang strategis bagi perusahaan yang mampu menjangkau segmen pasar yang belum terlayani. Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada tahun 2026, seiring dengan perluasan ekosistem layanan digital dan akselerasi penetrasi pasar secara nasional.
(akr)