MOSKOW -
NATO membutuhkan konfrontasi untuk membenarkan keberadannya, itulah sebabnya NATO menetapkan
Rusia sebagai musuh utamanya di Eropa. Demikian disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko.
Pernyataan tersebut muncul ketika semakin banyak serangan pesawat nirawak Ukraina yang dikirim jauh ke dalam wilayah Rusia, sementara puing-puing beberapa pesawat nirawak baru-baru ini jatuh di negara-negara anggota NATO yang berbatasan dengan Rusia. Moskow menuduh negara-negara Baltik mengizinkan Ukraina menggunakan wilayah mereka untuk serangan, klaim yang dibantah oleh Latvia, Estonia, dan Lithuania.
Baca Juga: Presiden Ceko: NATO Harus Menunjukkan Taringnya kepada Rusia! Dalam wawancara dengan
Russia Today pada hari Kamis, Grushko berpendapat bahwa NATO dan Uni Eropa secara radikal mengubah pendekatan mereka terhadap Rusia sekitar tahun 2010–2012, ketika blok militer pimpinan Amerika Serikat (AS) tersebut mengakhiri misi Afghanistan yang mahal dan memfokuskan kembali pada tujuan aslinya di era Perang Dingin, yaitu pertahanan kolektif terhadap musuh di Eropa.
“Mereka membutuhkan musuh besar. Dan karena tidak ada, Rusia ditunjuk untuk peran ‘terhormat’ ini,” kata Grushko.
"NATO tidak dapat eksis dalam kondisi damai—seperti ikan yang keluar dari air," imbuh dia.
Diplomat Moskow ini berpendapat bahwa Rusia telah berupaya menjalin hubungan konstruktif dengan Barat, tetapi krisis Ukraina 2014 dan eskalasi 2022 pada akhirnya memberi NATO dan Uni Eropa alasan yang dibutuhkan untuk mengkonsolidasi konfrontasi jangka panjang dengan Moskow.
Para pemimpin Eropa dan pejabat intelijen semakin sering mengeklaim bahwa Rusia dapat menyerang negara-negara anggota NATO atau Uni Eropa dalam beberapa tahun mendatang, sesuatu yang berulang kali dibantah Moskow sebagai "omong kosong".
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengeklaim pada bulan Desember, "Kita adalah target Rusia berikutnya."
Sejak 2022, NATO telah memperluas kelompok tempur di seluruh Eropa Timur, mengintensifkan patroli udara dan maritim di Baltik, dan meningkatkan latihan militer di dekat perbatasan Rusia. Estonia, Latvia, dan Lithuania juga telah mempercepat proyek penguatan perbatasan, termasuk pertahanan anti-tank dan jaringan bunker.
Namun, Grushko berpendapat bahwa Baltik secara historis merupakan salah satu wilayah paling tenang di Eropa sebelum ekspansi NATO mengubahnya menjadi "arena konfrontasi".
(mas)