JAKARTA - Perkembangan
teknologi digital , kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, dan konektivitas global mengubah pola kerja masyarakat secara drastis. Kondisi tersebut melahirkan ekosistem Gig Economy yang memungkinkan seseorang bekerja secara fleksibel tanpa terikat pola kerja konvensional.
Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal mengatakan, di era Gig Economy aspek yang menjadi penentu penting masa depan seseorang lebih baik atau tidak bukan berasal dari siapa yang punya peluang lebih besar, akan tetapi tentang siapa yang mampu mengendalikan diri untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Baca juga: Teknologi Digital Mengubah Lanskap Logistik Transportasi Saat ini banyak profesi baru tumbuh melalui platform digital, mulai dari kreator konten, desainer, penulis, programmer, digital marketer, hingga konsultan independen.
Gig Economy merupakan sistem pasar tenaga kerja yang didominasi pekerja lepas (freelancer), pekerja kontrak jangka pendek, dan pekerja berbasis platform digital. Namun, di balik terbukanya peluang besar tersebut, dia melihat banyak orang justru mengalami kebingungan, mudah kehilangan fokus, hingga kesulitan membangun hasil yang konsisten.
“Masalah terbesar justru berada pada kemampuan manusia mengelola dirinya sendiri,” ujar Syam dalam tulisannya mengenai tantangan dunia kerja modern di tengah berkembangnya Gig Economy dikutip Sabtu (30/5/2026).
Tantangan utama di era Gig Economy bukan lagi soal kurangnya akses informasi maupun keterampilan teknis. Sebab, hampir seluruh pengetahuan kini dapat dipelajari dengan mudah melalui internet dan berbagai platform pembelajaran digital.
Anehnya, banyak orang tetap gagal menjalankan apa yang sebenarnya sudah mereka pahami. “Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar manusia modern bukan lagi persoalan pengetahuan, melainkan persoalan eksekusi,” ucapnya.
Karena itu, Syam yang juga founder Satya Mindcare mengembangkan pendekatan bernama Hypno Success Method yang berfokus pada pembangunan sistem diri manusia, bukan hanya peningkatan kemampuan teknis.
Manusia tidak hanya digerakkan oleh logika berpikir, tetapi juga dipengaruhi bawah sadar, emosi, kebiasaan, keyakinan, dan identitas diri. “Banyak keputusan yang kita ambil setiap hari sebenarnya tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran melainkan dari program internal yang sudah lama tertanam dan berjalan otomatis,” katanya.
Melalui Restorasi Jiwa Indonesia dan Satya Mindcare, Syam menjelaskan Hypno Success Method dibangun melalui tiga tahapan utama yakni Deep Reprogramming untuk membongkar pola pikir penghambat, Superconscious Alignment untuk menyelaraskan arah hidup, serta Conscious Execution guna membangun tindakan yang konsisten.
Keberhasilan di era Gig Economy tidak cukup ditentukan oleh skill semata, tetapi juga kemampuan seseorang mengelola emosi, disiplin, fokus, dan konsistensi diri. “Masa depan akan lebih banyak dimiliki oleh mereka yang mampu mengelola kesadarannya, mengendalikan dirinya, dan membangun sistem hidup yang selaras dengan perubahan zaman,” ungkapnya.
Ketika seseorang tidak lagi dikontrol oleh sistem kerja konvensional, maka faktor penentu keberhasilan sepenuhnya bergantung pada kemampuan mengendalikan diri sendiri.
(jon)