JAKARTA - Kesadaran masyarakat yang makin tinggi terhadap pencegahan pubertas dini pada anak diproyeksi bakal mengubah peta industri kemasan pangan dan air minum dalam kemasan (AMDK) bebas Bisphenol A (BPA). Langkah mitigasi kesehatan yang dimulai sejak fase pra-kehamilan hingga pola asuh anak ini diyakini akan mendorong permintaan pasar terhadap produk-produk penunjang gaya hidup sehat yang ramah hormon.
"Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan," kata pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko seperti dikutip, Sabtu (30/5/2026).
Baca Juga: BPOM Perketat Batas Migrasi BPA Galon Guna Tekan Risiko Pubertas Dini Menurut Prof. Budi, yang akrab disapa Prof. Iko, paparan zat pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemical seperti BPA dari galon guna ulang dan kemasan plastik harus dihindari sejak awal. Ia menekankan pentingnya perlindungan ketat bagi ibu hamil, terutama pada trimester pertama kehamilan atau tiga bulan pertama, agar janin tidak terekspos zat kimia berbahaya tersebut.
Guna melindungi konsumen, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sendiri sebenarnya telah menetapkan batas migrasi maksimal BPA sebesar 0,6 bagian per juta (mg/kg) dalam kemasan pangan. Batasan regulasi ini menjadi acuan penting bagi pelaku industri kemasan untuk memastikan produk yang beredar di pasar aman bagi kesehatan reproduksi jangka panjang.
Lebih lanjut, Prof. Iko menjelaskan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) saat ini memiliki program bertajuk “Selamatkan Perempuan Indonesia”. Program ini menekankan bahwa kesehatan perempuan harus dibangun dari hulu sampai hilir, yang berarti persiapan tidak cukup hanya dimulai saat bayi sudah lahir ke dunia.
"Selamatkan Perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan. Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA dan zat kimia pengganggu hormon lainnya," ujar Prof. Iko.
Ia memperingatkan bahwa ibu hamil yang terpapar zat pengganggu hormon pada tiga bulan pertama dapat membawa risiko kesehatan reproduksi bagi anak di kemudian hari. Gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai dari dampak paparan tersebut antara lain adalah kista endometriosis, kista coklat, Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), hingga risiko penyakit kanker.
Baca Juga: Harga Sama, KKI Soroti Diskriminasi Kualitas Galon Guna Ulang di Pasaran Dari sisi psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai bahwa fenomena pubertas dini pada anak erat kaitannya dengan kesiapan mental dan pengetahuan holistik dari orang tua sebelum memiliki anak. Ia menekankan bahwa calon orang tua wajib memahami kebutuhan dasar anak sejak dini, termasuk menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari paparan zat berbahaya.
"Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas saja, justru dari sebelum-sebelumnya, ketika mereka mau jadi orang tua. Orang tua perlu memperhatikan jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi, termasuk menghindari zat seperti BPA," tutur Ratih.
Sebab itu, pencegahan pubertas dini perlu ditempatkan sebagai strategi keluarga yang berkelanjutan mulai dari rencana kehamilan, masa mengandung, hingga pola asuh. Beralih ke pilihan kemasan makanan dan minuman yang bebas BPA menjadi langkah investasi kesehatan yang nyata untuk mengurangi risiko kerusakan hormon dan masa depan anak.
(nng)