JAKARTA - Indonesia dikenal dengan kekayaan budayanya, yang mencakup nilai-nilai luhur seperti integritas, etos kerja, dan gotong royong. Nilai-nilai ini telah diwariskan oleh para pejuang dan menjadi fondasi karakter bangsa.
Namun, di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital, terutama kecerdasan buatan (AI), muncul berbagai tantangan yang menguji ketangguhan karakter tersebut
Salah satu bentuk ancaman dari teknologi digital adalah ideologi transnasional yang disebarkan melalui kecerdasan buatan.
AI, dengan kemampuannya mengidentifikasi perilaku dan preferensi individu, dapat mengarahkan masyarakat pada ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Oleh sebab itu, Warsito mengajak seluruh pihak untuk terus waspada dan memantapkan karakter bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
Dalam memperingati Hari Lahir Pancasila, Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat kembali tantangan Pancasila dalam konteks Indonesia masa kini.
Bagi PKP, ancaman terhadap Pancasila saat ini tidak lagi terutama berupa pertarungan ideologi secara langsung sebagaimana pernah terjadi dalam sejarah bangsa, melainkan melalui perubahan sosial dan budaya yang secara perlahan menggeser cara hidup masyarakat Indonesia dari nilai-nilai yang menjadi ruh Pancasila.
“Bagi PKP, tantangan bangsa hari ini bukan lagi menemukan Pancasila, melainkan menghidupkan Pancasila dalam manusia Indonesia,” ujar Ketua Umum PKP, H. Isfan Fajar Satryo.
PKP memandang bahwa modernitas tidak boleh dimaknai sebagai meninggalkan jati diri bangsa. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterbukaan terhadap dunia harus tetap berpijak pada karakter Indonesia yang menjunjung gotong royong, tenggang rasa, penghormatan kepada sesama, dan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab.
PKP juga menilai bahwa tantangan terbesar generasi muda Indonesia bukan hanya kompetisi ekonomi global, tetapi juga menjaga identitas kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dan perubahan budaya yang berlangsung sangat cepat.
“Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka kita tidak cukup membangun infrastruktur, industri, atau teknologi. Kita harus membangun manusia Indonesia yang Pancasilais: sehat, cerdas, berintegritas, berbudaya, menghormati keberagaman, dan memiliki semangat gotong royong,” tutup Isfan.
(wbs)