TEL AVIV - Wakil kepala badan intelijen
Mossad telah dipecat setelah lebih dari dua dekade mengabdi kepada badan mata-mata Israel tersebut. Laporan media Zionis mengungkap bahwa pemecatan itu terkait dengan gagalnya operasi yang bertujuan untuk meruntuhkan rezim ulama di Iran.
Channel 12, yang mengutip dua sumber anonim pemerintah Israel, melaporkan bahwa wakil kepala Mossad tersebut telah mengawasi proyek yang diluncurkan sekitar setahun yang lalu dengan anggaran satu miliar shekel (sekitar USD344 juta) dan tim yang terdiri dari ratusan personel.
Baca Juga: Iran Gantung Pekerja Nuklirnya karena Jadi Antek Mossad Menurut laporan tersebut, Selasa (9/6/2026), operasi Mossad dimaksudkan untuk berkontribusi pada upaya menjatuhkan kepemimpinan Iran.
Sumber-sumber tersebut mengatakan kepada
Channel 12 bahwa inisiatif tersebut gagal mencapai tujuannya.
“Seperti yang sudah diketahui semua orang, hasilnya tidak sesuai harapan," kata mereka.
Lebih lanjut, laporan itu mengatakan bahwa Direktur Mossad yang baru diangkat, Roman Gofman, memerintahkan pemecatan wakil kepala tersebut pada hari Jumat setelah 22 tahun mengabdi di Mossad.
Baik Mossad maupun pemerintah Israel tidak secara terbuka mengaitkan pemecatan tersebut dengan kegagalan operasi penjatuhan rezim Iran. Identitas wakil bos Mossad yang dipecat juga tidak diungkap.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat oleh kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas nama badan intelijen tersebut, langkah itu disajikan sebagai bagian dari transisi kepemimpinan setelah pengangkatan Gofman.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa keputusan pemecetan wakil bos Mossad mencerminkan keinginan direktur baru untuk membangun tim kepemimpinan senior yang akan membantu dalam mengimplementasikan tujuan badan tersebut dan mengatasi tantangan di masa depan.
Laporan itu muncul beberapa hari setelah surat kabar Israel;
Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa Mossad telah memasok kelompok Kurdi dengan senjata yang disita dari Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon sebagai bagian dari upaya yang lebih luas yang bertujuan untuk melemahkan rezim Iran.
Menurut laporan tersebut, CIA juga berpartisipasi dalam inisiatif itu sebelum kemudian dihentikan oleh Presiden AS Donald Trump.
(mas)