Kehadiran Timnas Iran diPiala Dunia 2026 langsung memicu perhatian dunia. Bukan hanya karena persiapan mereka menuju turnamen, tetapi juga pesan politik yang dibawa para pemain setibanya di Amerika Utara.
Skuad Iran terlihat mengenakan pin bertuliskan angka “168” saat tiba di Meksiko, markas sementara mereka selama turnamen berlangsung. Angka tersebut ternyata memiliki makna mendalam dan berkaitan dengan konflik politik antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan media Catalunya,
Ara, angka “168” dipakai untuk mengenang 168 siswi yang tewas dalam serangan udara di sekolah perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran Selatan, pada 28 Februari lalu.
UNICEF sebelumnya mengutuk serangan tersebut karena terjadi saat kegiatan belajar sedang berlangsung. Sebagian besar korban disebut merupakan anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun.
“Korban anak-anak ini menjadi pengingat brutal tentang dampak perang terhadap generasi muda dan komunitas,” tulis UNICEF dalam pernyataannya kala itu.
Meski belum ada pengakuan resmi terkait pihak yang bertanggung jawab, lima mantan pejabat Amerika Serikat, termasuk mantan pengacara militer senior, sempat meminta Pentagon menyelidiki kemungkinan keterlibatan AS dalam serangan tersebut. Namun Presiden Donald Trump justru menyebut Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab tanpa memaparkan bukti.
Situasi politik itu ikut membayangi perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026. Awalnya, mereka dijadwalkan menjalani pemusatan latihan di Tucson, Arizona. Namun rencana tersebut berubah dan Iran memilih bermarkas di Tijuana, Meksiko, demi menghindari ketegangan politik di Amerika Serikat.
Meski begitu, Iran tetap harus masuk wilayah AS untuk memainkan pertandingan fase grup melawan Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles serta menghadapi Mesir di Seattle.
Laporan lain menyebut pemerintah AS meminta skuad Iran segera meninggalkan negara tersebut pada hari yang sama setelah pertandingan selesai digelar.
Ketegangan juga terasa sejak keberangkatan tim dari Teheran menuju Meksiko. Media setempat melaporkan skuad Iran dilepas dengan upacara kenegaraan yang diwarnai kibaran bendera Hezbollah serta teriakan anti-Amerika dari sejumlah pendukung.
Masalah visa pun disebut menghantui delegasi Iran. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, dilaporkan sempat ditolak masuk ke Kanada saat hendak menghadiri Kongres FIFA di Vancouver beberapa waktu lalu.
Menariknya, Piala Dunia 2026 berpotensi mempertemukan Iran dengan tuan rumah Amerika Serikat di fase gugur. Jika kedua tim sama-sama finis sebagai runner-up grup, mereka bisa bentrok pada babak 32 besar di Arlington, Texas, awal Juli mendatang.
Di tengah tensi politik yang terus memanas, Piala Dunia 2026 tampaknya bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga panggung simbol dan pesan diplomatik antarnegara.
(sto)