ISLAMABAD - Amerika Serikat (AS) dan
Iran telah mengatakan bahwa mereka sudah menyepakati nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut akan ditandatangani secara resmi pada Jumat mendatang di Jenewa, Swiss.
Meskipun rincian kesepakatan tersebut belum dipublikasikan, Iran mengatakan dokumen itu akan fokus pada pengakhiran perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara kedua pihak akan memiliki waktu 60 hari untuk menegosiasikan masa depan program nuklir Iran.
Baca Juga: AS dan Iran Capai Kesepakatan, Perang Berakhir "Selamat kepada semua!" tulis Trump di Truth Social, Senin (15/6/2026), saat mengumumkan tercapainya kesepakatan.
Poin-poin Penting Kesepakatan AS-Iran
1. Perang berakhir di semua front, termasuk di Lebanon.
2. AS mencabut blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
3. Iran membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.
4. Negosiasi nuklir Teheran dibahas terpisah dalam waktu 60 hari setelah kesepakatan diteken.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa, efektif mulai hari Senin, perang akan berakhir secara permanen dan segera di semua front, termasuk di Lebanon.
Gharibabadi mengatakan perjanjian tersebut menyusul negosiasi intensif yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan.
“Nota kesepahaman ini bukan berarti mempercayai musuh. Ini ditulis dengan ketidakpercayaan aktif,” katanya, menurut laporan
Press TV Iran. “Kami akan memantau pelaksanaan komitmen AS,” imbuh dia.
Laporan lain dari media Iran menyebut AS setuju mencairkan aset Teheran senilai USD24 miliar yang dibekukan Washington, namun pemerintah kedua pihak belum memberikan konfirmasi resmi.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, "Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.”
Pembicaraan berulang kali terhenti dan tertunda, dengan kedua pihak saling menuduh mengajukan tuntutan yang tidak dapat diterima dan menyebutkan kurangnya kepercayaan.
Baru-baru ini, Iran mengancam akan menangguhkan negosiasi karena serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon. Dalam upaya untuk mencegah pembicaraan gagal, Trump dilaporkan menuntut agar Israel menghentikan serangan tersebut selama beberapa percakapan telepon yang panas dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dalam sebuah wawancara dengan media AS, Trump memuji Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping karena membantu menengahi penyelesaian tersebut.
Dia menggambarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai "orang yang sangat sulit". Dia mengatakan: "Netanyahu seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan ini."
"Karena jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama dua jam," kata Trump.
(mas)